About Me

My photo
JUST EVERY DAY PEOPLE

Tuesday, March 27, 2012

Mengulik Senja di masa silam ^^


Satu yang aku ingat dari sahabat saya yang satu ini adalah kamar dan bantal tidurnya, entah kenapa kedua entitas itu selalu menyambut tangisan saya dan dengan ajaib pula menenangkan saya. Untuk Fanisia Senja, saya tidak lagi menemukan kamar dan bantal untuk menangis seperti kamar dan bantal mu, juga mimik mukamu yang diam saja menungguku menyelesaikan tangisku. Terimakasih karena membiarkanku mengotori bantalmu dengan tangisku, seenak udelku masuk kamar mu hanya untuk menangis, lalu pergi begitu saja saat sudah lega.

Aku menemukan tulisan ini di henpunku, kau berikan padaku kira kira tiga tahun yang lalu, saat kita masih berfisik dan berverbal tanpa fesbuk. Tidak tahan rasanya menyimpannya sendiri, aku ingin membagi keindahannya pada teman2 yang lain. Tak apa ya mir??....Mari bergabung bersama saya mengulik Senja di masa Silam.

SENJA YANG TERBELAH by Mirani Fanisihan

(Part 1)

Sekian ratus perjumpaan kami adalah kemungkinan tiadanya ceria. Lingkaran hidupku dan lingkaran hidupnya adalah dua kutup yang berbeda. Kami hanya bersentuhan dalam sebuah irisan kecil masa lalu (2 menit yang lalu bagiku juga masa lalu….). Irisan yang sangat sederhana. Tapi begitulah, pertikel diam memiliki medan magnet yang lebih besar daripada yang bergerak, itu menurutku.

Dan setiap kali juga, baru sadar aku merasa berdiri di bawah kanopi kamboja, tanpa berharap sedikitpun dia memberi reaksi, padahal sungguh aku sangat ingin dia memberi reaksi. Ini sebuah persinggahan terkutuk yang pernah kualami. Pemberhentian entah yang mana yang membuat kami selalu terjaga dengan cara yang aneh untuk tetap bertahan. Gravitasi mengitari untuk tetap ada, namun tetap berjarak. Mengalir mengikuti rotasinya sendiri-sendiri.

Aku selalu menemukan keleluasaan semesta di binar matanya (namun entahlah mungkin karena sadarku tentangmu membuatku tak yakin tentang ini). Bebintang beterbangan seperti ribuan lampu merkuri di sebuah kota yang paras.

Kau mencederai pikiranku. Mengacaukan seluruh sirkulasi keteraturan yang ada, yang kumiliki. Kaulah lelaki yang selalu datang untuk memperlebar nganga luka, namun aku menikmati setiap luka itu dengan bahagia………………………

Aku ingat serpih masa lalu yang terserak di tingkap ingatan. Kita tidak pernah meniti satu jalan kebersamaan (nurani perempuanku menuntunku untuk tetap berpijak di jalanku). Kau berdiri sendiri di sudut terjaga oleh cahaya, dan aku berdiri di sudut remang yang lain, entah untuk apa. Seperti saat-saat sesudahya, tidak ada percakapan mengalir, kita berbicara dalam bahasa entah dan bercerita dalam bahasa entah. Tidak ada kata beterbangan, tidak juga pertengkaran. Dan sensasi yang membawaku padamu, bukan buat menyapa. Aku bisa merasakan tatapanmu melewati jantungku…....................

Will be continue

Malam minggu, 26 Oktoberber 2008 jam 7.30 pm.

By Senja

Senja yang terbelah

Part 2

Mungkin aku salah……………….

Tapi sekian ratus pertemuan, membuat aku mengenali isyarat paling sederhana sekalipun dari bola matanya, meski aku jarang sekali bertatapan dengan binarmu………..

Kucoba mengurai setiap tatapan seperti matahari mengurai titik air menjadi spektrum, menjadi bianglala yang saat ini sedang kulihat seorang diri……(karena ku yakin tak akan pernah menikmati senja bersamanya…huh…….)

Ya…barangkali aku salah jika kukatakan…..aku menyukaimu….ups! Jangan menatapku seperti itu. Tapi dengarkan aku, ini sebenarnya sederhana saja, meskipun akan menjadi sebuah awal bagi ketololan yang lebih besar. Kita berada dalam sebuah gelombang elektromagnetik yang sama, kau boleh tidak setuju dengan ini, tapi dengarkan dulu teoriku!! Gelombang menguar dari hati, mengatasi tubuh, beresonansi di udara terbuka dan mencapai membran hatiku. Jangan katakan apa-apa, cukup tatapan mata yang serupa gemericik air di bebatuan di awal perjalanan dalam sebuah perjumpaan.

Kita berada di semesta kebohongan, semesta dusta, merenanginya seperti suka cita kita terhadap haus.

Aku sadar bagaimanapun juga, aku selalu berharap kedatanganmu…ya hanya kedatangan tak lebih seperti berharap pagi yang selalu datang menyapa. Kau adalah batas diri dan batas lelahku. Hidup bukanlah hitungan matematis, hitungan di atas kertas, karena seringkali kenyataan berbicara tak seindah yang kita bayangkan. Dan aku yakin, kau melakukan yang perjalanan sama dalam sunyimu, perjalanan yang tak terpahami dalam benakmu….

26 Desember 2008

By Senja

Rabu Pagi di TLOGOMAS : Indonesian Land


Perempuan seperti saya ini dijamin bernasib sial berkepanjangan jika dikaitkan dengan urusan cantik ala Marlyn Monroe. Semenjak kecil dulu, tak pernah ada sejarah bercerita bahwa saya ini berbadan kurus, pengalaman overdosis pun yang disebabkan karna ibu saya terlalu bersemangat mencekoki saya paracetamol tak sanggup lah mengentaskan saya dari kesialan itu. Atau mungkin kelebihan paracetamol yang kemudian mendukung kesialan itu. Ditambah lagi filosofi makan yang diajarkan bapak saya pada saya, beliau berkata seperti ini “Makanan itu adalah rejeki, sikap kita padanya adalah cara mula untuk belajar mensyukuri rejeki itu, jika kau sukses dalam test awal itu, maka Tuhan tak akan pernah sekalipun melupakanmu dalam perihal pembagian rejeki”, pendek kata, bapak saya akan merangkum khotbah mautnya itu hanya dalam dua kata “Habiskan Makananmu!!”. Tak pernah bapak saya bernasihat begini, “sudah, kalo tidak kuat tidak usah dipaksakan”, alih alih memahami perut yang sudah sesak bernafas, beliau malah akan berujar dengan tegas, mata berkilat kilat, sambil memegang tusuk gigi dan mengabsen selilit di tumpukan giginya yang bergundalan kesana kemari, “Habiskan Makananmu sampai sehabis habisnya, bapak tunggu sampai kiamat sekalipun” (dialog beliau setelah saya gubah). Kejadian itu sering terjadi di restoran yang menunya tidak bisa di setengahkan, jadilah saya tersiksa dalam kenikmatan. Dunia itu memang suka aneh, bagaimana mungkin merasa tersiksa dalam kenikmatan?, yah, kenikmatan karna saya memang suka makan, tersiksa karna mulut masih ingin mengecap tapi perut sudah menolak dengan posisi bertahan ala Leonidas, the king of Sparta yang memimpin perang melawan Xerxes dari persia di himpitan tebing Thermopylae. Filosofi hidup satu lagi yang diturunkan ayah saya, “Tak apalah ndut, yang penting sehat”, nah itu dia, biasanya orang orang dengan tubuh lebih dari proposional malah digemari penyakit, yang hipertensilah, jantung, asam urat, sampai bau asam. Tapi untunglah, dalam sejarah penyakitan, saya ini clear, bersih, satu satunya penyakit yang rajin menyambangi saya hanya flu dan sariawan. Ada alasan kenapa permpuan seperti ini bernasib sial berkepanjangan jika berurusan dengan cantik ala Marlyn Monroe, sepertinya sejak sudah ditiupkannya roh saya dalam rahim ibu saya, Tuhan sudah sekalian bersabda bahwa saya tak pernahNYA ditakdirkan untuk kurus. Ibu saya sampai heran berkepanjangan, kenapa saya tak jua kurus, padahal kegiatan saya seabrek, belum lagi ditambah puasa sunnah saya setiap Senin dan Kamis, lalu berenang setiap Rabu dan Jumat pagi, setiap hari meminum teh hijau, pola makan saya juga tidak bisa dikatakan spektakuler, walupun memang pada dasarnya saya suka makan. Pernah ketika mengerjakan tugas akhir, saya kerap lupa makan, tidur selalu pagi, ujung ujungnya kolaps karena asam lambung saya naik sekitar tiga strip diatas rata rata, tiga hari saya tidak bisa makan dan minum, muntah terus kerjanya, sampai akhirnya di infus sebagai jalan keluar terakhir. Fantastis, berat saya turun drastis, tapi tetap tidak bisa dikatakan kurus, namun cukup puaslah saya dengan angka itu, 48, angka tercantik yang pernah saya temui, didapat dengan pesakitan pula. Tak bertahan lama tentu, hanya dalam hitungan minggu saya sudah mulai tembem lagi. Kata mamakku, yang bermasalah adalah pikiranku, beliau bilang, kalau ingin cepat kurus, berpikirlah yang dalam, macam orang depresi itu, lupalah kau akan makan, kalaupun makan, entah hilang kemana itu makanan, berlakulah kau macam orang gila, depresilah, kuruslah kau pasti nanti. Disitu masalahnya mungkin, saya ini tipikal orang yang easy going kata orang bule, apa dikatalah, masalah itu bukan untuk dipikir dan ditekur, tapi diselesaikan, tak betahlah aku berlama lama dengan yang namanya masalah. Saat sudah mulai beranjak dewasa, sikap easy goingku yang cenderung cuek sampai acuh ini terkadang menyelamatku dalam berbagai hal, tapi juga sebaliknya. Saya tidak pernah sedikitpun terpengaruh dengan WRP dan Citra body lotion, atau produk produk konsumtif lainnya yang menuntun perempuan berlaku cantik ala Marlyn Monroe, badan langsing, kulit putih, dada bengkak, pantat mengintimidasi, bibir berminyak, pipi merah, bulu mata bak kemoceng bulu ayam. Saya terbebas dari permaknaan cantik fisik yang suka menyiksa teman teman perempuan saya yang pontang panting mengejarnya, hanya dengan 50ribu kulit wajah seputih porselen, dengan 200rb rambut lurus macam papan, dengan 15rb perut rata setelah seharian bolak balik kakus sebanyak dua puluh kali. Namun memang, mereka tampak memukau, gemas aku dibuatnya, apalagi para lelaki, mereka sudah seperti berbie di taman ria, mulus, semlohai, dan mahal. Sedangkan aku, masih, tembem, buluk, dan murah..haha..oh dunia, apa yang kau perbuat pada kami ini??. Sabda bapakku ini bisa dibilang luar biasa, begini beliau bilang “ Kamu itu istimewa, tak perlulah mencoba menjadi orang lain, just be yourself ajah” (setelah saya gubah tentunya), jika berurusan dengan lelaki, ternyata saya tidak sesial itu juga, adalah beberapa teman pria yang menganggap saya istimewa terlepas dari cantik WRP dan Citra Body Lotion (Dibaca : Langsing dan Putih). Namun jika ada diantara lelaki yang beranggapan bahwa akan mulai melirik saya setelah saya kurus, saya jamin, kiamat pun takkan pernah kalian dapat itu. Maka, pria pria seperti bapakku lah yang mungkin akan menganggap saya istimewa, bapakku itu nomer satu di seluruh dunia, dunia manapun itu, dunia bagian tengah, bagian timur, barat, selatah, dunia atas bawah, dunia sadar dan tidak sadar, sampai dunia jin, bapak saya nomer satu di seluruh dunia apa saja.

Apa urusannya dengan Tlogomas?, begini, sudah dua bulan saya di malang. Bekerja lah judulnya, tapi pada nyatanya, tugas mulia saya masih sebatas absen saja. Padahal, setiap hari saya hanya membeli satu bungkus nasi, saya memakannya dalam dua sesi, siang jam 1, dan setengahnya lagi sore jam lima, malamnya saya hanya makan pisang, namun, setiap kali saya pulang, komentar bapak saya begini, “tambah tembem aja kamu mbak?, ayo dijaga makannya, biar gak kelewatan”, heh?, bapak, tidak ingatkah kau pada sabdamu dulu?, habiskan makananmu, ta apa tembem asal sehat, heleh,,sakit hati aku dibuatnya, belum lagi usahaku untuk mengatur pola makan, sehari hanya makan satu nasi bungkus dengan porsi nasi yang sudah disetengahkan, jika disendokka, saya hanya makan delapan sendok perhari, plus segelas susu, dan dua sisir pisang, dan bapak saya tega teganya mengatakan saya tambah tembem, seperti tertusuk sembilu rasanya. Akhirnya, pagi ini, saya mendapat pencerahan, saya harus mulai berenang lagi, aktivitas ini sempat terhenti saat saya mengalami kecelakaan dan kaki saya dijahit empat. Tlogomas: Indonesia Land, dekat sekali dengan kosan saya, sedekat mata dengan hidung (jangan percaya), tapi memang dekat. Pagi pagi saya berangkat, saya merencakan akan berenang seminggu tiga kali, namun pupuslah rencana itu saat saya tau tiket masuknya 15rb, jika tiga kali seminggu saya menghabiskan 45rb, dikali empat maka jumlah akhirnya adalah 180.000. Saya bisa mabuk laut dengan posisi di darat kalau begini jadinya.Kalu di jember, duit itu bisa untuk berenang setengah tahun. Saya ini mahir berenang, olahraga favorit saya memang, saya selalu suka berenang, kata para ilmuwan, berenang melancarkan peredaran hormon endorfin yang menyebabkan perasaan senang. Empat jempol buat ilmuwan itu. Saya hanya bermasalah pada tempo, tempo saya berenang seperti medley lagu rap dan lagu rohani, cepat, lambat, cepat, lambat, cepat, lambat dan akhirnya kolaps, ngos ngosan di pinggir kolam, berenang gaya punggung yang berakhir dengan ketiduran. Tapi tidak pagi ini, saya mengisi perut dulu dengan segelas susu rendah kalori, sangkit bersemangatnya melihat kolam dengan air yang biru turqouise, saya memilih tempo lagu rap dengan jarak panjang bolak balik dua kali putaran, lalu ngos ngosan di pinggir kolam, pusing tujuh keliling, tiduran dengan gaya punggung, bangun karna kepala saya menabrak dinding kolam. Lalu saya memutuskan untuk mentas, tak tertahankan sudah pusingnya. Saya berkeliling, saya masih ingat, ini kali kedua saya berkunjung kesini, kali pertama saat saya masi kelas satu SD mungkin. Tempat ini rasanya besar sekali, sebenarnya 15rb tidak bisa dikatakan mahal, karena selain kola renang, tempat ini juga dilengkapi dengan lapangan tenis indoor, food court, resort, taman bermain dan belajar, ada beberapa patung dinosaurus, naga, srikandi dengan busur dan kaki melutut yang lebih tampak seperti pose seorang model daripada seorang pahlawan perang. Kolam teratai dengan bunga warna pinknya yang menggemaskan, kolam untuk sepeda air, ayunan disana sini, papan luncur warna warni. Ah..senang rasanya mengenang masa kecil lalu, saya berenang seharian sampai hidung saya merah dan bibir saya biru kedinginan, lalu makan indomie goreng berdua dengan adik saya. Berenang lagi, satu ban diisi saya dan adik saya, lalu di dorong oleh bapak saya, ibu saya di pinggir kolam sambail melambai lambai dan tersenyum senang. Ahkk..betapa masa itu sudah berlalu, walau bagaimanapun sudah terpetaklah ia di lobus kiriku, sewaktu waktu menyeruak dan mengangetkanku untuk hanya sekedar mengajakku tersenyum mengingat masa kecil dulu. Cukup tersenyum, dan aku yakin Tuhan tau aku berterimakasih..^^. SELAMAT HARI RABU

Tribute to those specials (jiwa jiwa yang membuatmu enggan mati muda)....^^


Saya 24 tahun, bukan sesuatu yang special, karna bukan perak, bukan perunggu dan bukan emas. Tapi yang pasti, hari raya tahun depan saya akan punya jawaban lain saat saudara saudara tua bertanya, "kapan menikah?". Saya dapat hadiah yang manissss sekali di hari ulang tahun saya, tentu saja selain tugas kantor yang mengharuskan saya berkutat dengan 16000 kertas dan plastik. Keluarga baru saya meredefinisi permaknaan rumah, ya...saya akhirnya menemukan sebuah rumah. Rumah yang bukan imajiner tapi konkrit, rumah yang tidak perlu hak huni dan bangun, rumah yang memberanikan saya untuk selalu menghuni. Rumah yang saya sebut persahabatan.

Saya mendapat hadiah nunutan dari Ajeng, karib saya di Jember. Hadiah nunutan, karena sebenarnya hadiah tersebut bukan untuk saya, melainkan untuk mbak Ayun yang berulang tahun sehari sebelum saya. Hadiah itu merupakan sebuah narasi singkat tentang mbak Ayun yang berhasil melewati usia keramat, 27 tahun dan dengan sukses memasuki usia 30 tahun. Menengok tulisan Ajeng itu, maka saya masih akan menantikan tiga tahun mendatang untuk melihat apakah saya akan bernasib sama dengan Amy Winehouse yang menutup usia di angka 27, atau akan panjang umur seperti ratu Elizabeth yang terseok seok melambailan tangan keriputnya. Apapun yang terjadi pada saya nanti, saya berterimakasih kepada Tuhan dan karib karib saya karena telah menyambut saya dengan kehangatan matahari jam sembilan pagi.

Karena hadiah saya adalah nunutan, dan karena hadiah itu merupakan sebuah narasi yang bukan menarasikan saya, maka saya akan menghadiahi diri saya sendiri dengan sebuah narasi. Sekaligus merupakan sebuah tribut untuk teman teman yang membuat saya enggan mati muda.

Saya masih ingat betul sekitar empat tahun yang lalu, saya menulis sebuah tulisan yang berjudul A nu Day, always a nu day. Bercerita tentang kesadaran sekaligus kekawatiran saya sebagai budak waktu. Saya kawatir jika pada usia produktif, saya malah akan membuang buang waktu dengan nonton gosip dan menghafal chart musik karena aplikasi lamaran saya belum juga mendapat balasan. Saya menulis untuk mengingatkan setidaknya diri saya sendiri bahwa waktu sesungguhnya Tuhan dalam bentuk materi abstrak yang menentukan mau dibawa kemana hidupmu। Sekali kamu tak bertegur sapa dengannya, selamanya akan dibawanya kamu ke dunia antah berantah dimana kau lupa segala galannya pun namamu sendiri, dan sebagai pledoi penutup hidup, mengutiplah kau apa kata Charil Anwar, sekali berarti lalu mati.

Tulisan saya itu (seperti tulisan tulisan saya yang lain yang selalu konsisten untuk tidak konsisten), pada akhirnya menemukan takdirnya sendiri untuk tidak lagi bercerita tentang kekawatiran menjadi budak waktu, namun bercerita tentang kenikmatan menjadi budak waktu dengan berkhayal menyusun cita cita.

Cita cita awal saya adalah menjadi seorang Public Relation, yang artinya Humas jika dalam proposal kepanitian pentas seni SMA, dan yang ternyata dalam prakteknya lebih dekat dengan marketing, yang kalau ditarik dalam peyorasi tingkat rendah disebut juga sales, yang kalau mau di runtuhkan lagi harga dirinya disebut penjaja kata. Ah..sejujurnya, sampai sekarang pun saya belum juga tau jelas tentang definisi PR, hanya saja bagi kuping saya dua kata itu tetap menarik. Keinginan itu terinjeksi oleh majalah perempuan yang selalu dibeli ibuku dengan roman roman prancisnya yang selalu bercerita tentang perempuan perempuan cantik yang bekerja berkeliling dunia lalu bertemu pangeran pujaan, memiliki kisah cinta yang unik dan khayali, lalu menikah dan happily ever after. Sayangnya, cita cita ini kandas di ujung kaki saya yang panjangnya tak lebih dari 152 cm. Tapi lintang kecil tidak menyerah, bergegaslah ia menyusun cita cita baru, kali ini ia bercita cita sebagai desain interior hanya karena ibunya berkata bahwa ia cukup pandai menata kamarnya (padahal mungkin ibu mengatakan ini agar ia rajin membereskan kamar). Semangatlah saya untuk menyusun rencana menjadi desain interior, namun lagi lagi pupus sudah cita cita itu setelah ibu saya memarahi saya habis habisan karena kamar saya seperti kapal titanic setelah menabrak gunung es. Sekali lagi, tidak lah saya menyerah, cita cita saya selanjtnya adalah menjadi arsitek, hal ini karena saya gemar membaca salah satu rubrik tentang konsultasi rumah dalam sebuah majalah perempuan milik ibu saya. Niat saya bukan hanya dimulut, kali itu saya juga mengimbanginnya dengan bergabung dalam kelompok siswa matematika fisika, sayangnya, kukabarkan hal buruk lagi padamu kawan, saya hanya bertahan selama dua minggu dalam kelompok itu dan dengan pasti cita cita saya menjadi arsitek layu sebelum berkecambah karena sudah dipastikan nilai fisika dan matematika saya akan berhenti di angka 6 sebagai hasil maksimal. Lalu saya bercita cita lagi sebagai guru, sebagai imbas membaca buku habis gelap terbitlah terang tulisan seorang perempuan hebat dari Jepara. Tak perlu lah kujelaskan mengapa aku urung melanjutkan cita cita ini, namun aku sempat menyesal telah mengkandaskannya setelah tau bahwa ada istilah baru bernama sertifikasi. Cita cita saya yang sebenarnya tidak pernah berubah adalah bisa travelling kemanapun dan bertemu beraneka macam manusia.

Umur 21 saya memulai belajar bekerja, pekerjaan pertama saya adalah menjadi seorang tour leader. pekerjaan yang bisa dibilang sangat menarik, saya bisa mengunjungi berbagai tempat dengan gratis dan dibayar pula, walau bukan jarang saya kena semprot dan dimarah marahi karena sesuatu hal, dan bukan jarang pula saya mendapat senyum ramah dan pelukan hangat. Cita cita saya untuk bisa travelling sedikit terwujudkan. lalu pekerjaan kedua saya adalah menjadi surveyor pertamina dalam program konversi gas. Saya diharuskan berkeliling dari kampung ke kampung mendata penduduk yang berhak menerima bantuan kompor gas, dari sana saya mengetahui bahwa di belakang gedung megah di kota saya, masih banyak rumah rumah tanpa jendela yang terpaksa hidup dalam kepengapan dan kegelapan absolut. Ada seorang nenek yang sudah berusia sekitar 60 tahun, mata kirinya sudah berwarna abu abu tanda katarak. Ia hidup hanya berdua dengan cucunya yang berumur 4 tahun, bercerita padaku bahwa anaknya bercerai dan sekarang mengadu nasib sebagai TKI. Beliau berjualan kayu bakar dengan penghasilan lima ribu perhari (yang sayangnya juga tak tentu), lampu teplok dari kaleng bekas dan kain yang dicelup dalam minyak gas hanya satu satunya harta selain foto anaknya yang terbingkai dalam frame usang 4 x 6. Memikirkan bagaimana nenek dan cucu ini masih bisa hidup dan tertawa saja saya bingung, iya, masih bisa tertawa dengan segala keterbatasan. Lalu saya bertanya pada diri saya sendiri, bisakah kompor dan gas menolong si nenek?. Tetap dalam diam, saya menulis namanya, tanggal lahirnya yang saya karang dan kira kira sendiri (beliau lupa), juga tanda tangan yang juga saya karang sendiri. Saya bilang pada si nenek bahwa ia akan dapat kompor dan gas, tapi nanti jika ia sudah dapat, bolehlah di jual, dan tetaplah memasak dengan kayu bakar. Ternyata, konversi gas bukanlah jawaban. Dari pengalaman itu, saya ingin lebih sedikit berati, bekerja di sebuah lembaga sosial yang bisa meringankan beban sesama walau hanya sedikit. Cita cita ini hampir terwujud, tinggal selangkah lagi, namun ketika saya berdoa dengan intro "ya allah, jika perkara ini baik untukku, maka jadikanlah, jika tidak maka hindarkanlah"....cita cita ini malah tidak terwujud (belum tepatnya). Pekerjaan saya selanjutnya adalah menjadi guru di sebuah lembaga belajar, tidak ada yang special selain mengetahui bahwa anak anak jaman sekarang cepat sekali besarnya. yang selanjutnya saya mencoba peruntungan menjadi wiraswasta, membuka kafe kopi dengan dana hibah sebesar 30 juta. Satu tahun penuh saya dan keempat teman saya bergadang berjualan kopi, hingga malam hari saat di tangan saya bersandar nampan beserta kopi diatasnya, saya bertanya lagi pada diri saya sendiri, "benarkah kau belajar bahasa inggris, mengenal Kierkegard dan menghambai marxist pada sesuatu hal hanya untuk berjualan kopi?". Yah,, kesadaran itu membawa saya pada keputusan untuk tidak lagi berjualan kopi dan kembali berkutat dengan skripsi saya hanya untuk tambahan S.S dibelakang nama saya. Itu saat saya berumur 22 tahun. Jika umur 21 tahun menghadiahi saya sebuah semangat untuk membentuk sebuah kehidupan, maka angka 22 menghadiahi saya bahwa hidup tidak hanya butuh semangat, namun juga keringat.

Hadiah tahun lalu saat saya berumur 23 adalah ayah sakit dan beliau harus di operasi. Saya sangat ketakutan, tapi tak mungkin dan tak boleh kawatir, untuk ibu dan adik saya. Saya tak tau harus bercerita pada siapa tentang ketakutan saya, akhirnya saya hanya menangis dibawah shower hampir lebih dari satuu jam. Ayah saya sembuh, saya lega, ibu saya senang, adik saya gembira. Usia 23 menghadiahi saya sebuah kesadaran bahwa kehidupan bisa hilang kapan saja, menghadiahi saya sebuah kesadaran bahwa sebagai anak pertama saya berkewajiban untuk matang baik pikir maupun laku. Harus bisa menjadi sandaran kapanpun dan dimanapun bagi keluarga saya. Sebuah kesadaran bahwa saya tidak lagi gadis kecil dengan fairy talenya.

Tahun ini, saya melewatkan moment 24 saya di kota malang. Merindukan serangan tengah malam dengan kue tar dan lilin berangka yang digawangi gadis gadis DT 47 lalu mencoreng coreng muka dengan tar dan memakannya dengan mata yang mengantuk. Tahun ini saya melewatkan moment 24 saya dengan 16000 kertas dan plastik, serta kehangatan dari rumah baru saya, dua buah tar mungil, empat buah bros manis, dan sebuah jilbab cantik. Dan masih merindukan rumah Jember saya, jalanan yang ramai, ketan ayu dengan sate atinya, wedang cor dengan tempe gorengnya, mbah tin dengn jilatan ludahnya di dahi saya, tawa renyah dan asap rokok yang tak pernah menyesakkan.

Angka 24 menghadiahi saya sebuah kesadarn bahwa rumah adalah dimana engkau diterima dan menerima, bersama mennggarnis kehidupan dengan hidup itu sendiri, dan tak pernah berhenti untuk saling mengerti.

Angka 24 menghadiahi saya sebuah kesadaran bahwa kandasnya satu mimpi bukan berarti menghalangimu untuk bermimpi lagi dan lagi.

Angka 24 menghadiahi saya sebuah kesadaran untuk sekali lagi bersyukur karena diberikan rumah yang nyaman.

Dan,,

Angka 24 menghadiahi saya sebuah kesadaran bahwa saya masih punya PR untuk mencari jawaban sebuah pertanyaan di hari raya nanti,, "Kapan Menikah?"

Trimakasih buat Rumah indahnya ^^

Monday, March 26, 2012

A Tribute to my b’loved brader


Saya masih ingat betul masa kecil saya dan adik saya yang hanya berjarak dua tahun. Kami memiliki karakter yang berbeda jauh. Saya memiliki maskulinitas yang lebih banyak daripada adek saya, namun bukan bearti adek saya memiliki sifat2 feminin yg lebih banyak. Hanya adek saya ini super duper pendiam. Saat kami masih sama sama belum sekolah, kami seperti perangko, liburan pun tak mau dipisah. Jika saya ke sidoarjo, adek saya pasti akan minta ke sidoarjo, begitupun jika saya ke bojonegoro. Adek saya ini super duper rapi, dulu sebelum jam empat sore, dia pasti sudah merengek minta dimandikan, lalu dipakaikan baju dengan krah dan dimasukkan plus ikat pinggang, dan duduk manislah ia di depan televisi menonton scooby doo. Sedangkan saya, jangan harap menemukan saya dirumah sebelum magrib, saya pasti masih berkeliaran di sawah mencari keong, di lapangan maen kasti, atau masih di jalanan ngontel sepeda. Saya ini dulu, walaupun sayang sekali dengan adik saya, sering berbuat kriminal terhadapnya. Pernah saya paksa ia keluar ikut saya main ke lapangan, sampai ke lapangan saya acuhkan dia, hingga tiba tiba dia jatuh ke selokan yang penuh dengan perdu serupa putri malu yang durinya menancap di sekujur tubuhnya. Dengan semenamena saya tarik dia, saya pulangkan ke orang tuanya, dan saya kembali bermain tanpa menghiraukan tangisannya. Belum lagi saat dia saya takut takuti dengan tombakkiai pleret, menangis saja dia sampai habis suaranya. Sampai saat saya ajak dia sembunyi di kamar ketika orang tua kami datang, kamar ini memiliki dipan bertingkat, karena iming iming buah pir dari ibu saya, adik saya melanggar rencana saya untuk sembunyi dan pura pura menghilang, ia turun terburu dari dipan bertingkat dua hingga ia jatuh karna luput menginjak tanah. Saya menangis karna ketika saya coba bangunkan adik saya berkali2, tak jua ia merespon. Itu kenakalan terkhir saya yang saya sengaja, untunglah adik saya ini baik2 saja.

Saking diamnya, adik saya ini membuat orang orang penasaran. Wajahnya manis, ganteng, siapa saja yang melihat kami berdua berjalan bersama, pasti perhatian akan tertuju pada adik saya, hilanglah saya seperti roh gentayangan yang tidak dilihat orang namun bisa melihat orang. Adik saya ini benar benar membuat orang orang simpati, selain pendiam, penurut, ganteng, rapi, adik saya ini juga pintar. Saya seringkali iri, iriiiiiiiiiii sekali. Tiba tiba saja suka jahati dia, cari masalah ini itu, sudah kayak di sinetron itu. Sampai adik saya sakit demam berdarah, di tahun itu, tahun 1992 kalau tidak salah, Demam Berdarah masih di anggap sebagai penyakit yang berbahaya. Adik saya dirawat dirumah dengan diagnosa tifus dan diberi obat tifus selama seminggu. Badannya kurusssss sekali, setiap pulang sekolah saya sempatkan ke kali untuk mencari ikan jibut, sejenis ikan kali yang ekornya berwarna warni, menaruhnya di plastik, lalu menghadiahkan untuk adik saya. Saya pindah ikan ikan jibut itu di sebuah toples bekas astor, dan menaruhnya di sebelah kasur tempat adik saya tidur, saat terbangung, matanya mengerjap ngerjap bersemangat melihat ikan dengan buntut warna warni itu. Ibu saya malam malam menangis, saat tahu bahwa adik saya di diagnosa demam berdarah, beliau berdoa untuk kesembuhan adik saya sekaligus mengutarakan keikhlasan beliau jika adik saya tidak lagi berumur. Saya mendengarkan saja, dan menangis dalam diam, betapa irinya saya dengan adik saya, saya sayang dan tak ingin kehilangan dia. Tak apa saya iri seumur hidup, asal adik saya sembuh dan sehat kembali, doa saya waktu itu. Itu cobaan terberat bagi keluarga kami, setiap kali pulang sekolah, saya kerumah sakit, membacakan dia serial donal bebek dan paman gober, membantu memagang kakinya setiap kali suster mengambil darahnya, mengupaskan buah pir kesukaannya. Syukurlah adik saya sembuh, walaupun penyakit ini masih sering menyambanginya di tahun tahun berikutnya, namun tidak separah yang pertama.

Adek saya ini, walaupun lelaki, tapi lebih rapi daripada saya. Pikirannya tertata, tidak seperti saya yang mengandalkan 'apa kata besok', adik saya selalu 'punya rencana untuk besok'. Adik saya tahu benar apa yang di inginkannya dan apa yang baik buat dia, lagi lagi, tidak seperti saya yang suka bilang 'liat nanti aja'. Itu dulu, saya selalu mengira adik saya akan kuliah di jurusan HI, atau Informatika. Dia akan bergaya necis dengan baju krah dan jeans plus snearker, tidak lupa parfum yang wangi dan gel rambut, lalu lulus kuliah, kerja di sebuah perusahaan asing yang kemudian menobatkan dia sebagai employee of the year. Lalu foto manisnya akan terpajang di majalah Chic di rubrik jualan tampang dengan nomer tilpun, motto, dan tipe gadis pujaan. Lalu dia akan menikah muda, punya istri sosialita, anak dua yang unyu unyu, rumah di tengah kota dan mobil keluaran terbaru. Hem, bagus bukan imajinasi saya tentang adik saya. Yah, yang namanya imajinasi tentu saja bukan kenyataan, karna kenyataannya, adik saya masuk jurusan seni, desain produk, rambut gondrong, badan gemuk, kumis dan brewok meliar seperti sadam husein, badan bau kecut, pake kaos oblong plus jeans blawuk'en, sepatu yang sudah jebol sana sini, ngontel fixie kebanggaannya, tinggal di kontrakan yang berantakan plus bauk. Namun kecemerlangannya tetap tidak luntur, IPKnya berkepala 3, finalis beberapa lomba desain, menang PKM dengan proyek mainan anak tra la la lanya, sudah pintar cari duit pula. Sayangnya saya hanya ditraktir tiket pulang Mutiara Timur. Wahh...adik saya sudah besar sekarang, tidak bisa lagi kukempit kepalanya di ketiakku, atau kuciumi pipinya saat ia terlelap, atau kuhibur dengan ikan jibut berbuntut warna warni kala ia sedih, atau kutakuti dengan tombak kiai pleret saat dia nakal, atau ku ajak nonton scoby doo. Bagaimanapun, saya bersyukur punya adek seperti kamu @Alies Bayu, tetap jadi Bayu kami yang pintar, sopan, baik, berbakti pada bapak ibu, sayang sama keluarga, tak apa walau kamu masih tetap cuek, bauk, jelek, item, endut, suka tidur, suka makan. You will always be my little brother....Luv you in every way bro...

Semoga kamu bisa lulus dengan baik, bisa ke jepang, desain mobilmu bisa jadi mobil beneran, ketemu cewek cantik lahir batin yang sayang sama kamu dan tahan sama kecuekan dan kebauk anmu, bahagiain bapak ibuk (plus aku lo yo?), pokok intinya, tercapailah cita citamu...aye??..

Sunday, March 25, 2012

Membaca Nasib


Interlude

Saya masih ingat jelas saat bapak saya memarahi saya habis habisan gara gara saya gemar sekali membaca ramalan zodiac di majalah Femina, majalah ibu saya. Bapak saya bilang itu syirik, tak baik mengira ngira takdir hanya dengan membaca ocehan redaktur gila yang mungkin menulis ramalan sambil ngupil. Namun, pemahaman saya yang waktu itu masih memilih tidak paham, cuek saja setiap kali bapak saya marah. Saya hanya akan menutup majalah Femina itu, lalu memberikan waktu saya sepenuhnya untuk di marahi dengan muka yang datar, begitu bapak pergi, saya akan menyeduh kopi instant, menyusun bantal di sofa sambil mencari posisi paling nyaman sedunia, dan kembali membaca takdir saya selama seminggu kedepan yang ditulis oleh redaktur gila suka ngupil tadi. Kebiasaan membaca ramalan zodiac itu memang mencandu, jika kamu kopiholik, ato rokokholic, ato ganjaholic, ato mungkin ngupilholic (seperti si redaktur tadi), maka saya Zodiakholic. Saya tidak akan malu malu membaca rubrik Zodiak secara gratis saat saya melewati kios kios Koran di pinggir jalan seiring jalan saya pulang. Bukan Cuma 1, hampir semua majalah remaja saya kulik satu persatu dan membaca bagaimana nasib saya satu minggu kedepan. Begitupun di setiap senin sore, maka saya akan menunggu ibu saya pulang, memeriksa tas beliau, dan membuka majalah Femina. Lalu membuka kolom Zodiak, maka akan ada 2 zodiak yang saya baca, yang pertama Zodiak saya yang berlambang perempuan, yang kedua adalah Zodiak teman lelaki yang saya suka. Satu hal yang saya heran, walaupun berbeda bahasa, hampir seluruh ramalan Zodiak itu akan menyampaikan hal yang sama, misalnya ” Pastikan Anda tidak membiarkan diri Anda mengalah. Jagalah diri mu sendiri dan kesehatan fisik dalam pikiran Anda. Makan dengan baik dan jangan tergoda. Keuangan : Hidup Tenang, Asmara : Fatal, Pasangan Tidak Serasi : Aries, Leo, Libra, Aquarius, Pasangan Serasi : Cancer, Taurus, Virgo, Scorpio, Pisces, Hari keberuntungan : Kamis.”

Jika saya mencoba menterjemahkan ramalan si tukang ngupil, maka saya harus bertapa dan pergi ke psikiater jika ternyata pikiran saya tidak sehat(jagalah kesehatan fisik dalam pikiran anda), puasa dan diet (Makan dengan baik dan jangan tergoda), tak perlu mencari pekerjaan sampingan seperti menerjemah atau menulis artikel online (dompet dalam keadaan aman terkendali), dan mempersiapkan cara termanis untuk bunuh diri, tidur di rel kereta misalnya, karna asmara saya fatal, serta menanyakan “zodiakmu apa ?” pada kencan pertama untuk menghindari para pria berbintang aries, leo, libra dan aquarius, dan minta diajak nikah 2 tahun lagi jika saya bertemu pria berzodiak cancer, taurus, virgo, scorpio dan pisces, serta berharap agar hari kamis tidak berlalu dan memilih tidur sampai hari kamis berikutnya datang.

Tabloid POSMO dan Cerita tentang Gunung Kawi

Bapak dan ibu saya, beliau berdua adalah orang tua nomer satu se-alam semesta. Beliau mengajarkan kepada kami bagaimana menjadi manusia yang baik dengan cara yang benar, tidak hanya dengan tutur, namun seringkali dalam perbuatan. Bapak saya mengajarkan kami pentingnya mengaji, menjaga sholat dan menghormati orang tua, tidak dengan tutur, namun bapak akan selalu menyempatkan tiap minggu untuk mengunjungi mbah saya di Sidoarjo betapapun capeknya beliau. Kadang dulu saya seringkali berpikir, untuk apa ke Sidoarjo setiap minggu, ketika disana pun kami tidak melakukan apa apa, hanya pindah tidur dan pindah makan. Kenapa tidak sebulan atau tiga bulan sekali misalnya, (ini salah satu factor kenapa saya tidak pernah kencan di malam minggu, melainkan malam Jum’at, sudah seperti orang cari pesugihan saja memang). Namun bapak bilang, menyenangkan orang tua itu pahalanya besar, sudah itu saja, tanpa titik koma. Di kemudian hari (maksudnya hari hari sekarang), saya pada akhirnya mengerti apa yang dimaksud pahala itu. Sedangkan ibu saya memperkenalkan kami budaya membaca, pernah suatu ketika ibu bilang bahwa cita-cita beliau sebenarnya adalah menjadi ahli sejarah, namun entah mengapa nyasar menjadi akuntan. Majalah pertama yang dibelikan ibu (khusus) untuk kami adalah Donal Bebek. Inilah jawaban mengapa saya selalu merasa pernah membaca karya karya sastra legendaries sebelumnya, seperti The Old man and the Sea karya Hemmingway atau Journey to the Center of the Earth nya Jules Verne, kedua karya besar itu di adaptasi sedemikian rupa oleh Disney dan dimainkan dengan apik oleh Donal Bebek dengan formasi lengkapnya, Kwak, Kwik, Kwek serta Paman Gober. Selain bacaan yang dikhususkan untuk kami, saya juga seringkali membaca bacaan yang bukan untuk saya, majalah Femina misalnya. Saya mengenal istilah wanita karir ya dari situ, juga cita cita pertama saya juga dari situ, yaitu ingin menjadi PR (di baca : Pi Ar, voiceless R), Public Relation*. Nah, bersamaan dengan majalah Femina, ada juga majalah Hidayah juga tabloid POSMO. Majalah HIDAYAH banyak menceritakan tentang agama dan (yang sebagaian besar) momoknya. Majalah ini ditujukan bagi anda anda yang belum mendapat Hidayah, atau seseorang dengan nama Hidayah, atau seseorang yang lagi naksir seseorang yang bernama Hidayah, atau seseorang yang sedang mencari Hidayah. Saya, hampir tiap minggu membaca majalah ini, rubric yang disediakan pun menarik, ada yang tentang sejarah hadis, terjemahan Al-Qur’an, serta cerita cerita ajaib tentang manusia dan kehidupannya, seperti misalnya artikel berjudul, “Jasad berbau harum setelah dikubur selama 10 tahun”, atau “Wajah Cantik itu Meleleh menjelang ajal”. Selama saya membaca majalah HIDAYAH, saya pergi mengaji setengah jam lebih awal, sholat lima waktu tanpa di omeli oleh bapak, ditambah sholat sunnah tiga macam, dhuha, hajat dan tahajud, di tambah puasa sunnah (setengah hari, maklum masih SD), dan mimpi buruk tiap malam tentang neraka. Bacaan selanjutnya adalah tabloid POSMO, ini adalah tabloid untuk siapa saja yang ingin membuka mata batin. Tapi yang jelas, membaca tabloid POSMO lebih mencandu daripada majalah HIDAYAH, nah itulah alasan mengapa di kemudian hari saya telat mendapat hidayah. Jadi, majalah ini terbit dalam dua rentang, mingguan dan bulanan. Ibu saya bilang, tabloid POSMO yang selalu beliau bawa itu adalah edisi mingguan yang entah karena alasan apa, si loper Koran memberikan nya gratis karna ibu membeli majalah HIDAYAH (tanda Tanya besar kan?). Salah satu judul di cover majalah POSMO adalah (misalnya) “Kidung Maut Laskar Ghaib”, atau “Soeharto wali ke 10” dan judul judul ajaib lainnya. Saya penasaran setiap kali membaca tabloid POSMO, tentang jin, setan, iblis, ramalan, dan yang paling menarik “santet dan pesugihan”. Nah, yang terakhir ini banyak berlatar di gunung Kawi. Saya masih ingat jelas sebuah cerpen yang di muat di majalah POSMO, judulnya “Ayahku bercinta dengan Ular”, yang ternyata usut punya usut sang ayah ini bersepakat dengan nyi Blorong, selepas bercinta, nyi Blorong akan melepaskan sisik sisiknya dan seketika menjadi emas. Dulu, setiap kali membaca tabloid POSMO, maka saya akan dengan semangat menceritakan pada teman teman sekolah saya, saya juga lebih jeli setiap kali melihat ular (apakah itu nyi blorong?, ato anaknya?, ato cucunya?), dan serupa dengan efek membaca majalah HIDAYAH tadi, saya juga gemar mimpi buruk, kali ini bukan tentang neraka, tapi tentang ular, jin, kuntilanak, nyi roro kidul, nyi blorong, sundel bolong yang entah kenapa selalu berwajah Susana. Gunung Kawi adalah tempat yang paling sering di ceritakan dalam tabloid POSMO tersebut, tentang bukit doa dimana para pengunjung bisa meminta doa macam apapun, terbebas dari sembelit misalnya. Meminta jodoh juga bisa, konon, katanya, jika kita kejatuhan daun pohon Dewandaru, maka kita akan cepat dapat jodoh, rejeki lancar, dan hidup makmur. Jangan salahkan siapa saja yang pada akhirnya memilih duduk diam di bawah pohon dewandaru dan mengharapkan kejatuhan daunnya, promosi ke sahih-an pohon dewandaru ini sudah seperti promosi seorang agen MLM. Nah, untuk yang satu ini, saya pernah mengalaminya sendiri. Sungguh, tidak bohong, jujur demi bumi dan langit. Jadi, ibu saya punya tanaman bernama bunga wijaya kusuma, bunga ini pohonnya seperti pohon buah naga, bunganya putih dengan kelopak yang bertumpuk, baunya wangi sekali, bunga ini hanya mekar tengah malam, dan kuncup di besok paginya. Ibu bilang, jika kita melihat proses mekarnya bunga ini, maka keinginan kita akan terkabul. Saya, minum kopi 3 cangkir, dan menemani si bunga yang kebetulan di letakkan di depan kaca ruang tamu, saya mencatat permohonan saya, saya ingin bisa mengerjakan soal ujian tanpa belajar, saya tunggu, saya pantengin, eh saya ketiduran, dan bangun dengan bunga wijaya kusuma yang sudah mekar di depan saya, saya melongo, bunga wijaya kusuma seakan menertawakan saya, lalu saya lemas selama seminggu karna saya tau keinginan saya tidak akan terkabul (*efek samping terlalu banyak dosis membaca POSMO), ya tentu saja, bukannya belajar saya malah wiritan nunggu bunga mekar. Inti dari cerita ini adalah, hati hati bercerita pada anak anda, ceritakan saja tentang kancil yang suka mencuri ketimun, atau seorang serigala yang menyamar menjadi nenek nenek.

Nah, jika anda adalah manusia yang putus asa tingkat internasional, dan jika dalam pikiran anda hanya ada obat nyamuk untuk bunuh diri, dan jika anda sudah tidak bisa lagi merasakan nikmatnya minum kopi di pagi hari, atau jika salam super Mario Teguh sudah berasa kwalitet dua, ada baiknya anda ke gunung Kawi. Untuk mencapainya, anda menuju Malang terlebih dahulu, lalu melajulah ke arah Kepanjen, ikuti saja petunjuk yang tersebar di mana mana, susuri jalanan desa yang berkelok, dan sampailah anda ke Gunung Kawi. Ingat, Malang, Kepanjen, Gunung Kawi, klik.

Multikulturalisme Gunung Kawi

Jadi, itulah cerita sekilas tentang bagaimana saya sangat akrab dengan Gunung Kawi walau hanya secara literal. Saya berhenti membaca majalah POSMO ketika bapak saya mulai melihat gejala aneh pada diri saya, kantung mata yang menghitam gara gara suka terbangun tengah malam perkara mimpi buruk, suka bershalawat sendirian di tengah malam juga karna ketakutan, dan mantengin kuncup bunga wijaya kusuma. Bapak marah pada ibu, ibu marah pada loper Koran, loper Koran entah marah pada siapa. Saya kembali membaca majalah Hidayah, Femina dan juga Donal Bebek (kombinasi yang aneh, iya saya tau).

Kembali ke gunung Kawi, situs ini sudah sangat terkenal sejak jaman dulu, karna mistifikasi nya dan juga multikulturalismenya yang menarik. Namun bagi anda penganut monokulturalisme (benar tidak istilahnya?, males googling), jangan kemari, atau anda akan terkena serangan jantung gaya bis kencono. Wisata gunung Kawi pada akhirnya disebut sebagai Wisata Religi, multikulturalisme yang bisa dan temukan disini merupakan gabungan dari budaya hindu, konghucu, budha, islam juga kristen dan katolik. Anda akan menemukan masjid dan klenteng berjejer, orang menyandang tasbih dan mengocok batang ciam si, bau dupa juga akan menyambut anda. Wisata gunung kawi sendiri dibagi menjadi 3, yang pertama pesarean gunung Kawi, lalu puncak gunung Kawi yang merupakan rujukan tempat untuk pesugihan dan yang terakhir gunung Kawi itu sendiri. Saya dan kawan saya hanya sempat mengunjungi pesareannya saja, karena keterbatasan waktu tentu. Untuk mencapai pesarean, kami harus menempuh jalan pedesaan yang menanjak, dengan baju kerja lengkap (karna kami berangkat dalam rangka kabur dari runtinitas) yang untungnya tidak dengan sepatu ber-hak, kami ngos ngosan, sudah seperti berlari sepuluh putaran, tapi kami malu untuk sejenak beristirahat dan mengatur nafas. Di kanan kiri kami banyak tersebar hotel, rumah makan, toko peralatan persembahan, kios kios penjual bunga dan juga rumah rumah penduduk. Mendekai gerbang pesarean, anda akan menemuka Masjid Agung Imam Sujono di sisi kanan, anda juga akan menemukan banyak pesanggrahan untuk menampilkan kesenian wayang, biasanya para pengunjung yang ber nazar sesuatu akan memenuhinya dengan nanggap wayang. Lalu anda akan menemukan padepokan Eyang Djogo dan RM Iman Soejono. Jalan lah terus, hingga memasuki gerbang pertama, lalu di sisi kanan anda akan menemukan tempat Ciam Si. Lalu di gerbang kedua, anda akan memasuki area pesarean, dimana disana dimakamkan Kyai Zakaria (Panembahan Eyang Djoego) dan Raden Mas Iman Sudjono. Kisahnya, Kyai Zakaria merupakan penasihat spiritual pangeran Diponegoro yang melarikan diri dari serangan Belanda, sedangkan Raden Mas Iman Soedjono merupakan putra dari Kyai Zakaria. Keduanya di makamkan di situs tersebut dan menjadi magnet utama penarik para peziarah. Pada 1931 datanglah seorang tionghoa bernama Ta Kie Yam dari Singapura datang berziarah dan berdoa, karna ia merasa bahwa doanya di kabulkan maka ia membangun jalan menuju pesarean, mungkin dari sinilah multikulturalisme itu berawal.

Jangan pikirkan tentang keyakinan dulu disini, jangan terburu mengklaim sirik, murtad, atau apapun lah namanya. Sebuah perkara pasti bersisi banyak, saya lebih suka memandang perkara ini sebagai keunikan warisan budaya, bagaimana setiap manusia bisa saling menghormati dalam keterbedaan. Jika ingin berkunjung kesini, dan hanya ingin menjadi observer seperti saya dan kawan saya, maka redam dulu keyakinan anda, pegang kuat kuat, dan datanglah atas nama ilmu pengetahuan, atas nama tenggang rasa, atas nama penghormatan kepada cipta rasa dan karsa manusia kita. Maka kita akan bisa belajar berkehidupan selaras dalam keterbedaan, sebuah kesepakatan diam yang utuh dan terulas senyum, bahwa bagaimanapun kita hidup demi sebuah kemakmuran dan kedamaian bersama. Baiklah, siapa saja yang ingin berkunjung ke Gunung Kawi, siapkan kedua tangan anda untuk mengocok batang Ciam Si. Bermain hom pim pa dengan batang batang bambu.

Maen Hom-Pim-Pa di Gunung KAWI

Ciam Si dikenal sebagai salah satu metode meramal nasib dari Cina. Ramalan ini didasarkan dari 100 kertas syair yang tersedia yang bertujuan untuk mengetahui peruntungan nasib seseorang. Aturan pertama adalah tentu saja meyakini ritual ini (jika ingin ber-serius tentu), lalu memanjatkan doa dan mulai mengocok batang Ciam Si yang terbuat dari bamboo berukuran sekitar 10 cm dan diletakkan dalam sebuah gelas bambu, setiap batang Ciam Si memiliki nomer yang nantinya akan merujuk pada kertas kertas ramalan tadi, dan akan mengungkap nasib anda. Saat bermain Ciam Si, saya hanya main kocok saja. Batang Ciam Si pertama saya bernomor 58, syair yang tertulis tentang nasib saya adalah “seperti ular harap lekas menjelma menjadi naga, tapi dasarnya dia masih punya nasih masih tercegah, seperti orang yang sakit baik bikin sabar biar lega, sebab masih mau ributi bagaimana percuma juga”.

Nah, entah ini gerindam, pantun atau apapun, untuk mengungkap maknanya maka kita harus membaca nya di dalam buku terjemahannya. Isi dari terjemahan ramalan saya adalah “Ini pertanyaan kebetulan ini waktu belum bisa di dapatai maksud yang baik, Buat mau dapat uang itu pengharapan yang percuma. Perkara yang menimpa bakal tambah berbuntut panjang, orang punya perjodohan tidak baik.” Nah, ramalan terakhir ini yang sungguh menusuk seperti sembilu. Kocokan pertama anggap saja percobaan, maka saya coba kocokan yang kedua, yang ternyata berbunyi sama. Saya tidak mau dong menyerah pada batang bambu, maka saya baca dulu buku terjemahannya dan mencari ramalan yang baik yang menunjuk nomer 53. Jika sebelumnya saya asal kocok, maka kocokan ketiga saya ini saya lakukan sambil menggumam dalam hati, memusatkan otak dan pikiran saya, dan menyebut angka 53 seiring saya mengocok, eh yang keluar nomer 8. Walaupun tak bersesuaian, namun ramalan angka 8 ini berbunyi baik, intinya hidup saya lancar, jodoh saya dekat. Poinnya adalah, jika kau berniat baik, yakin dan berusaha, semesta akan membantu.

Karna ramalan baik saya masih kalah sama ramalan buruknya, saya kocok lagi batang Ciam Si itu, dan keluarlah ramalan yang baik lagi. Karna posisi masih seri, dan tak boleh mempertahankan status quo dalam hidup, saya kocok lagi batang Ciam Si, asikkk…ramalan baik lagi yang keluar. Tiga ramalan baik pasti akan mengalahkan dua ramalan buruk. Saya semangat, wajah saya sumringah, senyum saya secantik bunga wijaya kusuma, mata saya secerah bintang sirius, intinya, saya berkolaborasi dengan semesta untuk menjadi senang, optimis dan super, sampai datang dua orang ibu ibu dari Sidoarjo yang dengan SENGAJA datang untuk mengundi nasib. Si ibu bilang bahwa tahun lalu ia mengundi nasib suaminya disini dan terbukti, kini ia ingin mengundi nasib anaknya yang akan menikah. Lalu ibu itu bilang bahwa kita hanya boleh meramal tiga kali, selebihnya ramalannya tidak berguna. Tentu saja saya tidak percaya, saya tetap semangat, tetap tersenyum secantik bunga wijaya kusuma, tapi bunga yang hampir layu.

Meng-Komoditaskan Takdir itu…..

Kierkegaard mengasumsikan kehidupan menjadi dua. Hidup otentik dan hidup tidak otentik. Manusia yang memilih kehidupan otentik di namakan manusia eksistensial, begitupun sebaliknya. Dalam paham kedirian ini, Kierkegaard mengajarkan untuk memaksimalkan potensi diri melalui asumsi asumsi dasar yang ia sampaikan dalam paham yang entah mengapa dikenal kiri (padahal tidak, sungguh), Eksistensialisme. Kierkegaard mengasumsikan bahwa hal hal esensial dalam kehidupan manusia adalah freedom, consciousness, choice dan responsibility.

Manusia dilahirkan dengan kebebasan hakiki yang “bukan tanpa batas”, kebebasan dimaksudkan adalah sebuah kebebasan yang bertanggung jawab yang tidak melewati batas estetika, etika, dan juga batas religious. Konteks situasi eksistensial manusia meliputi aktualisasi progresif dan juga personal komitmen setiap manusia pada diri mereka sendiri. Sebuah kebebasan memilih jalan hidup (choice) haruslah disadari dengan kesadaran (consciousness) moral, etika, spiritual dan juga lini kehidupan lainnya, untuk kemudian mempertanggungjawabkan (responsibility) pilihan kehidupan itu dengan komitmen dan intergitas. Manusia yang eksistensial adalah manusia yang menghargai kebebasannya sebagai sebuah anugerah, lalu memilih jalan hidup dengan kesadaran penuh yang melibatkan semua lini kehidupan serta bertanggung jawab penuh pada pilihan itu.

Mendapatkan sebuah kehidupan yang otentik dan menjadi manusia eksistensial bukan perkara kecerdasan, namun itu berkelindang dengan perkara “pilihan”, “keyakinan” dan “komitmen”. Mengkomoditaskan takdir maka akan sama saja dengan menggadaikan keyakinan anda, melatih diri anda untuk tidak terlatih bekerja keras dan meningkatkan potensi. Jika hanya di gunakan sepintas lalu mungkin tidak masalah, namun jangan sampai mengambil alih sisi sisi logis. Karna bagaimanapun, keyakinan datang dari pengamatan logis, dari pengalaman empiric, begitu juga tentang Tuhan. Meyakini Tuhan dan alam semesta tanpa usaha juga sama saja bohong, untuk itulah iman dan takwa selalu berkelindang takdir, keduanya adalah proses progressif dalam memaknai hidup.

Jadi, mungkin inilah yang ingin disampaikan bapak saya, “sayang, berhentilah mengkomoditaskan takdir, karna bagaimanapun kita lah komoditas takdir, berteman baiklah dengannya, dengan menjadi manusia kritis dan optimis” (terjemahan bebas saya, sungguh bukan kata bapak saya). Pada dasarnya, kita sudah ber undi dengan takdir, dengan atau tidak bermain dadu, dengan atau tidak mengocok batang ciam si, dengan atau tidak membaca ramalan zodiac, dengan atau tidak meramal tarot, dengan atau tidak meramal palmistry. Maka, jika kita melakukan itu semua, maka kita akan bermain hom pi pa kuadrat dengan takdir lalu perlahan melupakan hal esensial dalam hidup, yaitu berusaha.

Keyakinan itu tempatnya di hati, biar ia tetap disana, jangan sekali kali jadikan ia sebagai komoditas akal dan logika. Setidaknya itu yang saya terapkan dalam diri saya. Saya enggan berdiskusi masalah keyakinan, karna saya menganggap bahwa keyakinan itu melebihi permaknaan agama dan juga melebihi simbolisasi Tuhan. Saya percaya agama saya, saya meyakininya, saya menjalankan anjuran dan perintah agama saya sebagai sebuah wujud komitmen saya terhadap pilihan hidup yang saya yakini baik dan sebisa mungkin saya jalankan dengan benar, cukup itu saja. Saya tidak peduli dengan pahala, atau berapa sapi yang berhasil saya kumpulkan di surga sana karna ibadah saya, cukup asas manfaat dan karma. Bagaimana kedua hal ini bisa menjadi tolak ukur bagi hidup saya, bagaimana saya bisa bermanfaat bagi orang lain, dan tidak munafik juga, bagaimana orang lain bisa bermanfaat bagi saya. Dan bagaimana hidup ini sungguh resiprokal, kau menuai benih yang kau tanam, maka bijaklah pada karma, dan bijaklah pada hidup. (mamah Dedeh mode on).

Baiklah, begitu saya coba berdialektika setidaknya dengan diri saya sendiri, malam ini. Apa kata batang Ciam Si tentang hidup saya biar saja menjadi sebuah pengalaman unik, hidup saya akan baik baik saja karna saya akan mengusahakan untuk baik baik saja. Saya juga akan bertemu tubuh dimana saya menjadi tulang rusuknya, lalu kami akan berbagi kesepakatan hidup tanpa perlu lebur menjadi satu. Selamat Malam, terimakasih untuk yang menyempatkan membaca. Mari membaca hidup ini dengan bijak….^^