About Me

My photo
JUST EVERY DAY PEOPLE

Monday, March 26, 2012

A Tribute to my b’loved brader


Saya masih ingat betul masa kecil saya dan adik saya yang hanya berjarak dua tahun. Kami memiliki karakter yang berbeda jauh. Saya memiliki maskulinitas yang lebih banyak daripada adek saya, namun bukan bearti adek saya memiliki sifat2 feminin yg lebih banyak. Hanya adek saya ini super duper pendiam. Saat kami masih sama sama belum sekolah, kami seperti perangko, liburan pun tak mau dipisah. Jika saya ke sidoarjo, adek saya pasti akan minta ke sidoarjo, begitupun jika saya ke bojonegoro. Adek saya ini super duper rapi, dulu sebelum jam empat sore, dia pasti sudah merengek minta dimandikan, lalu dipakaikan baju dengan krah dan dimasukkan plus ikat pinggang, dan duduk manislah ia di depan televisi menonton scooby doo. Sedangkan saya, jangan harap menemukan saya dirumah sebelum magrib, saya pasti masih berkeliaran di sawah mencari keong, di lapangan maen kasti, atau masih di jalanan ngontel sepeda. Saya ini dulu, walaupun sayang sekali dengan adik saya, sering berbuat kriminal terhadapnya. Pernah saya paksa ia keluar ikut saya main ke lapangan, sampai ke lapangan saya acuhkan dia, hingga tiba tiba dia jatuh ke selokan yang penuh dengan perdu serupa putri malu yang durinya menancap di sekujur tubuhnya. Dengan semenamena saya tarik dia, saya pulangkan ke orang tuanya, dan saya kembali bermain tanpa menghiraukan tangisannya. Belum lagi saat dia saya takut takuti dengan tombakkiai pleret, menangis saja dia sampai habis suaranya. Sampai saat saya ajak dia sembunyi di kamar ketika orang tua kami datang, kamar ini memiliki dipan bertingkat, karena iming iming buah pir dari ibu saya, adik saya melanggar rencana saya untuk sembunyi dan pura pura menghilang, ia turun terburu dari dipan bertingkat dua hingga ia jatuh karna luput menginjak tanah. Saya menangis karna ketika saya coba bangunkan adik saya berkali2, tak jua ia merespon. Itu kenakalan terkhir saya yang saya sengaja, untunglah adik saya ini baik2 saja.

Saking diamnya, adik saya ini membuat orang orang penasaran. Wajahnya manis, ganteng, siapa saja yang melihat kami berdua berjalan bersama, pasti perhatian akan tertuju pada adik saya, hilanglah saya seperti roh gentayangan yang tidak dilihat orang namun bisa melihat orang. Adik saya ini benar benar membuat orang orang simpati, selain pendiam, penurut, ganteng, rapi, adik saya ini juga pintar. Saya seringkali iri, iriiiiiiiiiii sekali. Tiba tiba saja suka jahati dia, cari masalah ini itu, sudah kayak di sinetron itu. Sampai adik saya sakit demam berdarah, di tahun itu, tahun 1992 kalau tidak salah, Demam Berdarah masih di anggap sebagai penyakit yang berbahaya. Adik saya dirawat dirumah dengan diagnosa tifus dan diberi obat tifus selama seminggu. Badannya kurusssss sekali, setiap pulang sekolah saya sempatkan ke kali untuk mencari ikan jibut, sejenis ikan kali yang ekornya berwarna warni, menaruhnya di plastik, lalu menghadiahkan untuk adik saya. Saya pindah ikan ikan jibut itu di sebuah toples bekas astor, dan menaruhnya di sebelah kasur tempat adik saya tidur, saat terbangung, matanya mengerjap ngerjap bersemangat melihat ikan dengan buntut warna warni itu. Ibu saya malam malam menangis, saat tahu bahwa adik saya di diagnosa demam berdarah, beliau berdoa untuk kesembuhan adik saya sekaligus mengutarakan keikhlasan beliau jika adik saya tidak lagi berumur. Saya mendengarkan saja, dan menangis dalam diam, betapa irinya saya dengan adik saya, saya sayang dan tak ingin kehilangan dia. Tak apa saya iri seumur hidup, asal adik saya sembuh dan sehat kembali, doa saya waktu itu. Itu cobaan terberat bagi keluarga kami, setiap kali pulang sekolah, saya kerumah sakit, membacakan dia serial donal bebek dan paman gober, membantu memagang kakinya setiap kali suster mengambil darahnya, mengupaskan buah pir kesukaannya. Syukurlah adik saya sembuh, walaupun penyakit ini masih sering menyambanginya di tahun tahun berikutnya, namun tidak separah yang pertama.

Adek saya ini, walaupun lelaki, tapi lebih rapi daripada saya. Pikirannya tertata, tidak seperti saya yang mengandalkan 'apa kata besok', adik saya selalu 'punya rencana untuk besok'. Adik saya tahu benar apa yang di inginkannya dan apa yang baik buat dia, lagi lagi, tidak seperti saya yang suka bilang 'liat nanti aja'. Itu dulu, saya selalu mengira adik saya akan kuliah di jurusan HI, atau Informatika. Dia akan bergaya necis dengan baju krah dan jeans plus snearker, tidak lupa parfum yang wangi dan gel rambut, lalu lulus kuliah, kerja di sebuah perusahaan asing yang kemudian menobatkan dia sebagai employee of the year. Lalu foto manisnya akan terpajang di majalah Chic di rubrik jualan tampang dengan nomer tilpun, motto, dan tipe gadis pujaan. Lalu dia akan menikah muda, punya istri sosialita, anak dua yang unyu unyu, rumah di tengah kota dan mobil keluaran terbaru. Hem, bagus bukan imajinasi saya tentang adik saya. Yah, yang namanya imajinasi tentu saja bukan kenyataan, karna kenyataannya, adik saya masuk jurusan seni, desain produk, rambut gondrong, badan gemuk, kumis dan brewok meliar seperti sadam husein, badan bau kecut, pake kaos oblong plus jeans blawuk'en, sepatu yang sudah jebol sana sini, ngontel fixie kebanggaannya, tinggal di kontrakan yang berantakan plus bauk. Namun kecemerlangannya tetap tidak luntur, IPKnya berkepala 3, finalis beberapa lomba desain, menang PKM dengan proyek mainan anak tra la la lanya, sudah pintar cari duit pula. Sayangnya saya hanya ditraktir tiket pulang Mutiara Timur. Wahh...adik saya sudah besar sekarang, tidak bisa lagi kukempit kepalanya di ketiakku, atau kuciumi pipinya saat ia terlelap, atau kuhibur dengan ikan jibut berbuntut warna warni kala ia sedih, atau kutakuti dengan tombak kiai pleret saat dia nakal, atau ku ajak nonton scoby doo. Bagaimanapun, saya bersyukur punya adek seperti kamu @Alies Bayu, tetap jadi Bayu kami yang pintar, sopan, baik, berbakti pada bapak ibu, sayang sama keluarga, tak apa walau kamu masih tetap cuek, bauk, jelek, item, endut, suka tidur, suka makan. You will always be my little brother....Luv you in every way bro...

Semoga kamu bisa lulus dengan baik, bisa ke jepang, desain mobilmu bisa jadi mobil beneran, ketemu cewek cantik lahir batin yang sayang sama kamu dan tahan sama kecuekan dan kebauk anmu, bahagiain bapak ibuk (plus aku lo yo?), pokok intinya, tercapailah cita citamu...aye??..

Sunday, March 25, 2012

Membaca Nasib


Interlude

Saya masih ingat jelas saat bapak saya memarahi saya habis habisan gara gara saya gemar sekali membaca ramalan zodiac di majalah Femina, majalah ibu saya. Bapak saya bilang itu syirik, tak baik mengira ngira takdir hanya dengan membaca ocehan redaktur gila yang mungkin menulis ramalan sambil ngupil. Namun, pemahaman saya yang waktu itu masih memilih tidak paham, cuek saja setiap kali bapak saya marah. Saya hanya akan menutup majalah Femina itu, lalu memberikan waktu saya sepenuhnya untuk di marahi dengan muka yang datar, begitu bapak pergi, saya akan menyeduh kopi instant, menyusun bantal di sofa sambil mencari posisi paling nyaman sedunia, dan kembali membaca takdir saya selama seminggu kedepan yang ditulis oleh redaktur gila suka ngupil tadi. Kebiasaan membaca ramalan zodiac itu memang mencandu, jika kamu kopiholik, ato rokokholic, ato ganjaholic, ato mungkin ngupilholic (seperti si redaktur tadi), maka saya Zodiakholic. Saya tidak akan malu malu membaca rubrik Zodiak secara gratis saat saya melewati kios kios Koran di pinggir jalan seiring jalan saya pulang. Bukan Cuma 1, hampir semua majalah remaja saya kulik satu persatu dan membaca bagaimana nasib saya satu minggu kedepan. Begitupun di setiap senin sore, maka saya akan menunggu ibu saya pulang, memeriksa tas beliau, dan membuka majalah Femina. Lalu membuka kolom Zodiak, maka akan ada 2 zodiak yang saya baca, yang pertama Zodiak saya yang berlambang perempuan, yang kedua adalah Zodiak teman lelaki yang saya suka. Satu hal yang saya heran, walaupun berbeda bahasa, hampir seluruh ramalan Zodiak itu akan menyampaikan hal yang sama, misalnya ” Pastikan Anda tidak membiarkan diri Anda mengalah. Jagalah diri mu sendiri dan kesehatan fisik dalam pikiran Anda. Makan dengan baik dan jangan tergoda. Keuangan : Hidup Tenang, Asmara : Fatal, Pasangan Tidak Serasi : Aries, Leo, Libra, Aquarius, Pasangan Serasi : Cancer, Taurus, Virgo, Scorpio, Pisces, Hari keberuntungan : Kamis.”

Jika saya mencoba menterjemahkan ramalan si tukang ngupil, maka saya harus bertapa dan pergi ke psikiater jika ternyata pikiran saya tidak sehat(jagalah kesehatan fisik dalam pikiran anda), puasa dan diet (Makan dengan baik dan jangan tergoda), tak perlu mencari pekerjaan sampingan seperti menerjemah atau menulis artikel online (dompet dalam keadaan aman terkendali), dan mempersiapkan cara termanis untuk bunuh diri, tidur di rel kereta misalnya, karna asmara saya fatal, serta menanyakan “zodiakmu apa ?” pada kencan pertama untuk menghindari para pria berbintang aries, leo, libra dan aquarius, dan minta diajak nikah 2 tahun lagi jika saya bertemu pria berzodiak cancer, taurus, virgo, scorpio dan pisces, serta berharap agar hari kamis tidak berlalu dan memilih tidur sampai hari kamis berikutnya datang.

Tabloid POSMO dan Cerita tentang Gunung Kawi

Bapak dan ibu saya, beliau berdua adalah orang tua nomer satu se-alam semesta. Beliau mengajarkan kepada kami bagaimana menjadi manusia yang baik dengan cara yang benar, tidak hanya dengan tutur, namun seringkali dalam perbuatan. Bapak saya mengajarkan kami pentingnya mengaji, menjaga sholat dan menghormati orang tua, tidak dengan tutur, namun bapak akan selalu menyempatkan tiap minggu untuk mengunjungi mbah saya di Sidoarjo betapapun capeknya beliau. Kadang dulu saya seringkali berpikir, untuk apa ke Sidoarjo setiap minggu, ketika disana pun kami tidak melakukan apa apa, hanya pindah tidur dan pindah makan. Kenapa tidak sebulan atau tiga bulan sekali misalnya, (ini salah satu factor kenapa saya tidak pernah kencan di malam minggu, melainkan malam Jum’at, sudah seperti orang cari pesugihan saja memang). Namun bapak bilang, menyenangkan orang tua itu pahalanya besar, sudah itu saja, tanpa titik koma. Di kemudian hari (maksudnya hari hari sekarang), saya pada akhirnya mengerti apa yang dimaksud pahala itu. Sedangkan ibu saya memperkenalkan kami budaya membaca, pernah suatu ketika ibu bilang bahwa cita-cita beliau sebenarnya adalah menjadi ahli sejarah, namun entah mengapa nyasar menjadi akuntan. Majalah pertama yang dibelikan ibu (khusus) untuk kami adalah Donal Bebek. Inilah jawaban mengapa saya selalu merasa pernah membaca karya karya sastra legendaries sebelumnya, seperti The Old man and the Sea karya Hemmingway atau Journey to the Center of the Earth nya Jules Verne, kedua karya besar itu di adaptasi sedemikian rupa oleh Disney dan dimainkan dengan apik oleh Donal Bebek dengan formasi lengkapnya, Kwak, Kwik, Kwek serta Paman Gober. Selain bacaan yang dikhususkan untuk kami, saya juga seringkali membaca bacaan yang bukan untuk saya, majalah Femina misalnya. Saya mengenal istilah wanita karir ya dari situ, juga cita cita pertama saya juga dari situ, yaitu ingin menjadi PR (di baca : Pi Ar, voiceless R), Public Relation*. Nah, bersamaan dengan majalah Femina, ada juga majalah Hidayah juga tabloid POSMO. Majalah HIDAYAH banyak menceritakan tentang agama dan (yang sebagaian besar) momoknya. Majalah ini ditujukan bagi anda anda yang belum mendapat Hidayah, atau seseorang dengan nama Hidayah, atau seseorang yang lagi naksir seseorang yang bernama Hidayah, atau seseorang yang sedang mencari Hidayah. Saya, hampir tiap minggu membaca majalah ini, rubric yang disediakan pun menarik, ada yang tentang sejarah hadis, terjemahan Al-Qur’an, serta cerita cerita ajaib tentang manusia dan kehidupannya, seperti misalnya artikel berjudul, “Jasad berbau harum setelah dikubur selama 10 tahun”, atau “Wajah Cantik itu Meleleh menjelang ajal”. Selama saya membaca majalah HIDAYAH, saya pergi mengaji setengah jam lebih awal, sholat lima waktu tanpa di omeli oleh bapak, ditambah sholat sunnah tiga macam, dhuha, hajat dan tahajud, di tambah puasa sunnah (setengah hari, maklum masih SD), dan mimpi buruk tiap malam tentang neraka. Bacaan selanjutnya adalah tabloid POSMO, ini adalah tabloid untuk siapa saja yang ingin membuka mata batin. Tapi yang jelas, membaca tabloid POSMO lebih mencandu daripada majalah HIDAYAH, nah itulah alasan mengapa di kemudian hari saya telat mendapat hidayah. Jadi, majalah ini terbit dalam dua rentang, mingguan dan bulanan. Ibu saya bilang, tabloid POSMO yang selalu beliau bawa itu adalah edisi mingguan yang entah karena alasan apa, si loper Koran memberikan nya gratis karna ibu membeli majalah HIDAYAH (tanda Tanya besar kan?). Salah satu judul di cover majalah POSMO adalah (misalnya) “Kidung Maut Laskar Ghaib”, atau “Soeharto wali ke 10” dan judul judul ajaib lainnya. Saya penasaran setiap kali membaca tabloid POSMO, tentang jin, setan, iblis, ramalan, dan yang paling menarik “santet dan pesugihan”. Nah, yang terakhir ini banyak berlatar di gunung Kawi. Saya masih ingat jelas sebuah cerpen yang di muat di majalah POSMO, judulnya “Ayahku bercinta dengan Ular”, yang ternyata usut punya usut sang ayah ini bersepakat dengan nyi Blorong, selepas bercinta, nyi Blorong akan melepaskan sisik sisiknya dan seketika menjadi emas. Dulu, setiap kali membaca tabloid POSMO, maka saya akan dengan semangat menceritakan pada teman teman sekolah saya, saya juga lebih jeli setiap kali melihat ular (apakah itu nyi blorong?, ato anaknya?, ato cucunya?), dan serupa dengan efek membaca majalah HIDAYAH tadi, saya juga gemar mimpi buruk, kali ini bukan tentang neraka, tapi tentang ular, jin, kuntilanak, nyi roro kidul, nyi blorong, sundel bolong yang entah kenapa selalu berwajah Susana. Gunung Kawi adalah tempat yang paling sering di ceritakan dalam tabloid POSMO tersebut, tentang bukit doa dimana para pengunjung bisa meminta doa macam apapun, terbebas dari sembelit misalnya. Meminta jodoh juga bisa, konon, katanya, jika kita kejatuhan daun pohon Dewandaru, maka kita akan cepat dapat jodoh, rejeki lancar, dan hidup makmur. Jangan salahkan siapa saja yang pada akhirnya memilih duduk diam di bawah pohon dewandaru dan mengharapkan kejatuhan daunnya, promosi ke sahih-an pohon dewandaru ini sudah seperti promosi seorang agen MLM. Nah, untuk yang satu ini, saya pernah mengalaminya sendiri. Sungguh, tidak bohong, jujur demi bumi dan langit. Jadi, ibu saya punya tanaman bernama bunga wijaya kusuma, bunga ini pohonnya seperti pohon buah naga, bunganya putih dengan kelopak yang bertumpuk, baunya wangi sekali, bunga ini hanya mekar tengah malam, dan kuncup di besok paginya. Ibu bilang, jika kita melihat proses mekarnya bunga ini, maka keinginan kita akan terkabul. Saya, minum kopi 3 cangkir, dan menemani si bunga yang kebetulan di letakkan di depan kaca ruang tamu, saya mencatat permohonan saya, saya ingin bisa mengerjakan soal ujian tanpa belajar, saya tunggu, saya pantengin, eh saya ketiduran, dan bangun dengan bunga wijaya kusuma yang sudah mekar di depan saya, saya melongo, bunga wijaya kusuma seakan menertawakan saya, lalu saya lemas selama seminggu karna saya tau keinginan saya tidak akan terkabul (*efek samping terlalu banyak dosis membaca POSMO), ya tentu saja, bukannya belajar saya malah wiritan nunggu bunga mekar. Inti dari cerita ini adalah, hati hati bercerita pada anak anda, ceritakan saja tentang kancil yang suka mencuri ketimun, atau seorang serigala yang menyamar menjadi nenek nenek.

Nah, jika anda adalah manusia yang putus asa tingkat internasional, dan jika dalam pikiran anda hanya ada obat nyamuk untuk bunuh diri, dan jika anda sudah tidak bisa lagi merasakan nikmatnya minum kopi di pagi hari, atau jika salam super Mario Teguh sudah berasa kwalitet dua, ada baiknya anda ke gunung Kawi. Untuk mencapainya, anda menuju Malang terlebih dahulu, lalu melajulah ke arah Kepanjen, ikuti saja petunjuk yang tersebar di mana mana, susuri jalanan desa yang berkelok, dan sampailah anda ke Gunung Kawi. Ingat, Malang, Kepanjen, Gunung Kawi, klik.

Multikulturalisme Gunung Kawi

Jadi, itulah cerita sekilas tentang bagaimana saya sangat akrab dengan Gunung Kawi walau hanya secara literal. Saya berhenti membaca majalah POSMO ketika bapak saya mulai melihat gejala aneh pada diri saya, kantung mata yang menghitam gara gara suka terbangun tengah malam perkara mimpi buruk, suka bershalawat sendirian di tengah malam juga karna ketakutan, dan mantengin kuncup bunga wijaya kusuma. Bapak marah pada ibu, ibu marah pada loper Koran, loper Koran entah marah pada siapa. Saya kembali membaca majalah Hidayah, Femina dan juga Donal Bebek (kombinasi yang aneh, iya saya tau).

Kembali ke gunung Kawi, situs ini sudah sangat terkenal sejak jaman dulu, karna mistifikasi nya dan juga multikulturalismenya yang menarik. Namun bagi anda penganut monokulturalisme (benar tidak istilahnya?, males googling), jangan kemari, atau anda akan terkena serangan jantung gaya bis kencono. Wisata gunung Kawi pada akhirnya disebut sebagai Wisata Religi, multikulturalisme yang bisa dan temukan disini merupakan gabungan dari budaya hindu, konghucu, budha, islam juga kristen dan katolik. Anda akan menemukan masjid dan klenteng berjejer, orang menyandang tasbih dan mengocok batang ciam si, bau dupa juga akan menyambut anda. Wisata gunung kawi sendiri dibagi menjadi 3, yang pertama pesarean gunung Kawi, lalu puncak gunung Kawi yang merupakan rujukan tempat untuk pesugihan dan yang terakhir gunung Kawi itu sendiri. Saya dan kawan saya hanya sempat mengunjungi pesareannya saja, karena keterbatasan waktu tentu. Untuk mencapai pesarean, kami harus menempuh jalan pedesaan yang menanjak, dengan baju kerja lengkap (karna kami berangkat dalam rangka kabur dari runtinitas) yang untungnya tidak dengan sepatu ber-hak, kami ngos ngosan, sudah seperti berlari sepuluh putaran, tapi kami malu untuk sejenak beristirahat dan mengatur nafas. Di kanan kiri kami banyak tersebar hotel, rumah makan, toko peralatan persembahan, kios kios penjual bunga dan juga rumah rumah penduduk. Mendekai gerbang pesarean, anda akan menemuka Masjid Agung Imam Sujono di sisi kanan, anda juga akan menemukan banyak pesanggrahan untuk menampilkan kesenian wayang, biasanya para pengunjung yang ber nazar sesuatu akan memenuhinya dengan nanggap wayang. Lalu anda akan menemukan padepokan Eyang Djogo dan RM Iman Soejono. Jalan lah terus, hingga memasuki gerbang pertama, lalu di sisi kanan anda akan menemukan tempat Ciam Si. Lalu di gerbang kedua, anda akan memasuki area pesarean, dimana disana dimakamkan Kyai Zakaria (Panembahan Eyang Djoego) dan Raden Mas Iman Sudjono. Kisahnya, Kyai Zakaria merupakan penasihat spiritual pangeran Diponegoro yang melarikan diri dari serangan Belanda, sedangkan Raden Mas Iman Soedjono merupakan putra dari Kyai Zakaria. Keduanya di makamkan di situs tersebut dan menjadi magnet utama penarik para peziarah. Pada 1931 datanglah seorang tionghoa bernama Ta Kie Yam dari Singapura datang berziarah dan berdoa, karna ia merasa bahwa doanya di kabulkan maka ia membangun jalan menuju pesarean, mungkin dari sinilah multikulturalisme itu berawal.

Jangan pikirkan tentang keyakinan dulu disini, jangan terburu mengklaim sirik, murtad, atau apapun lah namanya. Sebuah perkara pasti bersisi banyak, saya lebih suka memandang perkara ini sebagai keunikan warisan budaya, bagaimana setiap manusia bisa saling menghormati dalam keterbedaan. Jika ingin berkunjung kesini, dan hanya ingin menjadi observer seperti saya dan kawan saya, maka redam dulu keyakinan anda, pegang kuat kuat, dan datanglah atas nama ilmu pengetahuan, atas nama tenggang rasa, atas nama penghormatan kepada cipta rasa dan karsa manusia kita. Maka kita akan bisa belajar berkehidupan selaras dalam keterbedaan, sebuah kesepakatan diam yang utuh dan terulas senyum, bahwa bagaimanapun kita hidup demi sebuah kemakmuran dan kedamaian bersama. Baiklah, siapa saja yang ingin berkunjung ke Gunung Kawi, siapkan kedua tangan anda untuk mengocok batang Ciam Si. Bermain hom pim pa dengan batang batang bambu.

Maen Hom-Pim-Pa di Gunung KAWI

Ciam Si dikenal sebagai salah satu metode meramal nasib dari Cina. Ramalan ini didasarkan dari 100 kertas syair yang tersedia yang bertujuan untuk mengetahui peruntungan nasib seseorang. Aturan pertama adalah tentu saja meyakini ritual ini (jika ingin ber-serius tentu), lalu memanjatkan doa dan mulai mengocok batang Ciam Si yang terbuat dari bamboo berukuran sekitar 10 cm dan diletakkan dalam sebuah gelas bambu, setiap batang Ciam Si memiliki nomer yang nantinya akan merujuk pada kertas kertas ramalan tadi, dan akan mengungkap nasib anda. Saat bermain Ciam Si, saya hanya main kocok saja. Batang Ciam Si pertama saya bernomor 58, syair yang tertulis tentang nasib saya adalah “seperti ular harap lekas menjelma menjadi naga, tapi dasarnya dia masih punya nasih masih tercegah, seperti orang yang sakit baik bikin sabar biar lega, sebab masih mau ributi bagaimana percuma juga”.

Nah, entah ini gerindam, pantun atau apapun, untuk mengungkap maknanya maka kita harus membaca nya di dalam buku terjemahannya. Isi dari terjemahan ramalan saya adalah “Ini pertanyaan kebetulan ini waktu belum bisa di dapatai maksud yang baik, Buat mau dapat uang itu pengharapan yang percuma. Perkara yang menimpa bakal tambah berbuntut panjang, orang punya perjodohan tidak baik.” Nah, ramalan terakhir ini yang sungguh menusuk seperti sembilu. Kocokan pertama anggap saja percobaan, maka saya coba kocokan yang kedua, yang ternyata berbunyi sama. Saya tidak mau dong menyerah pada batang bambu, maka saya baca dulu buku terjemahannya dan mencari ramalan yang baik yang menunjuk nomer 53. Jika sebelumnya saya asal kocok, maka kocokan ketiga saya ini saya lakukan sambil menggumam dalam hati, memusatkan otak dan pikiran saya, dan menyebut angka 53 seiring saya mengocok, eh yang keluar nomer 8. Walaupun tak bersesuaian, namun ramalan angka 8 ini berbunyi baik, intinya hidup saya lancar, jodoh saya dekat. Poinnya adalah, jika kau berniat baik, yakin dan berusaha, semesta akan membantu.

Karna ramalan baik saya masih kalah sama ramalan buruknya, saya kocok lagi batang Ciam Si itu, dan keluarlah ramalan yang baik lagi. Karna posisi masih seri, dan tak boleh mempertahankan status quo dalam hidup, saya kocok lagi batang Ciam Si, asikkk…ramalan baik lagi yang keluar. Tiga ramalan baik pasti akan mengalahkan dua ramalan buruk. Saya semangat, wajah saya sumringah, senyum saya secantik bunga wijaya kusuma, mata saya secerah bintang sirius, intinya, saya berkolaborasi dengan semesta untuk menjadi senang, optimis dan super, sampai datang dua orang ibu ibu dari Sidoarjo yang dengan SENGAJA datang untuk mengundi nasib. Si ibu bilang bahwa tahun lalu ia mengundi nasib suaminya disini dan terbukti, kini ia ingin mengundi nasib anaknya yang akan menikah. Lalu ibu itu bilang bahwa kita hanya boleh meramal tiga kali, selebihnya ramalannya tidak berguna. Tentu saja saya tidak percaya, saya tetap semangat, tetap tersenyum secantik bunga wijaya kusuma, tapi bunga yang hampir layu.

Meng-Komoditaskan Takdir itu…..

Kierkegaard mengasumsikan kehidupan menjadi dua. Hidup otentik dan hidup tidak otentik. Manusia yang memilih kehidupan otentik di namakan manusia eksistensial, begitupun sebaliknya. Dalam paham kedirian ini, Kierkegaard mengajarkan untuk memaksimalkan potensi diri melalui asumsi asumsi dasar yang ia sampaikan dalam paham yang entah mengapa dikenal kiri (padahal tidak, sungguh), Eksistensialisme. Kierkegaard mengasumsikan bahwa hal hal esensial dalam kehidupan manusia adalah freedom, consciousness, choice dan responsibility.

Manusia dilahirkan dengan kebebasan hakiki yang “bukan tanpa batas”, kebebasan dimaksudkan adalah sebuah kebebasan yang bertanggung jawab yang tidak melewati batas estetika, etika, dan juga batas religious. Konteks situasi eksistensial manusia meliputi aktualisasi progresif dan juga personal komitmen setiap manusia pada diri mereka sendiri. Sebuah kebebasan memilih jalan hidup (choice) haruslah disadari dengan kesadaran (consciousness) moral, etika, spiritual dan juga lini kehidupan lainnya, untuk kemudian mempertanggungjawabkan (responsibility) pilihan kehidupan itu dengan komitmen dan intergitas. Manusia yang eksistensial adalah manusia yang menghargai kebebasannya sebagai sebuah anugerah, lalu memilih jalan hidup dengan kesadaran penuh yang melibatkan semua lini kehidupan serta bertanggung jawab penuh pada pilihan itu.

Mendapatkan sebuah kehidupan yang otentik dan menjadi manusia eksistensial bukan perkara kecerdasan, namun itu berkelindang dengan perkara “pilihan”, “keyakinan” dan “komitmen”. Mengkomoditaskan takdir maka akan sama saja dengan menggadaikan keyakinan anda, melatih diri anda untuk tidak terlatih bekerja keras dan meningkatkan potensi. Jika hanya di gunakan sepintas lalu mungkin tidak masalah, namun jangan sampai mengambil alih sisi sisi logis. Karna bagaimanapun, keyakinan datang dari pengamatan logis, dari pengalaman empiric, begitu juga tentang Tuhan. Meyakini Tuhan dan alam semesta tanpa usaha juga sama saja bohong, untuk itulah iman dan takwa selalu berkelindang takdir, keduanya adalah proses progressif dalam memaknai hidup.

Jadi, mungkin inilah yang ingin disampaikan bapak saya, “sayang, berhentilah mengkomoditaskan takdir, karna bagaimanapun kita lah komoditas takdir, berteman baiklah dengannya, dengan menjadi manusia kritis dan optimis” (terjemahan bebas saya, sungguh bukan kata bapak saya). Pada dasarnya, kita sudah ber undi dengan takdir, dengan atau tidak bermain dadu, dengan atau tidak mengocok batang ciam si, dengan atau tidak membaca ramalan zodiac, dengan atau tidak meramal tarot, dengan atau tidak meramal palmistry. Maka, jika kita melakukan itu semua, maka kita akan bermain hom pi pa kuadrat dengan takdir lalu perlahan melupakan hal esensial dalam hidup, yaitu berusaha.

Keyakinan itu tempatnya di hati, biar ia tetap disana, jangan sekali kali jadikan ia sebagai komoditas akal dan logika. Setidaknya itu yang saya terapkan dalam diri saya. Saya enggan berdiskusi masalah keyakinan, karna saya menganggap bahwa keyakinan itu melebihi permaknaan agama dan juga melebihi simbolisasi Tuhan. Saya percaya agama saya, saya meyakininya, saya menjalankan anjuran dan perintah agama saya sebagai sebuah wujud komitmen saya terhadap pilihan hidup yang saya yakini baik dan sebisa mungkin saya jalankan dengan benar, cukup itu saja. Saya tidak peduli dengan pahala, atau berapa sapi yang berhasil saya kumpulkan di surga sana karna ibadah saya, cukup asas manfaat dan karma. Bagaimana kedua hal ini bisa menjadi tolak ukur bagi hidup saya, bagaimana saya bisa bermanfaat bagi orang lain, dan tidak munafik juga, bagaimana orang lain bisa bermanfaat bagi saya. Dan bagaimana hidup ini sungguh resiprokal, kau menuai benih yang kau tanam, maka bijaklah pada karma, dan bijaklah pada hidup. (mamah Dedeh mode on).

Baiklah, begitu saya coba berdialektika setidaknya dengan diri saya sendiri, malam ini. Apa kata batang Ciam Si tentang hidup saya biar saja menjadi sebuah pengalaman unik, hidup saya akan baik baik saja karna saya akan mengusahakan untuk baik baik saja. Saya juga akan bertemu tubuh dimana saya menjadi tulang rusuknya, lalu kami akan berbagi kesepakatan hidup tanpa perlu lebur menjadi satu. Selamat Malam, terimakasih untuk yang menyempatkan membaca. Mari membaca hidup ini dengan bijak….^^

Monday, March 12, 2012

Rindu buat Mereka yang Nomer Satu ....^^

Setahun yang lalu, saya masih di rumah, di Jember, kota kecil yang sedang bergeliat tak sabar untuk besar. Di jam segini, maka saya ada di ruang keluarga, sama bapak ibu saya, minus adek saya karna berkuliah di Surabaya. Di jam segini juga, maka saya akan merebut paksa remote tv yang ada di tangan ibu saya yang perlahan terlelap dan kemudian sadar bahwa remotnya lenyap. Di jam segini pula, maka saya akan berdebat sama ibu saya, kenapa sih nonton sinetron, kenapa sih nonton berita, lalu ibu saya bilang, trus nonton apa, saya jawab nonton film aja. Di jam segini pula, maka ibu saya akan sedikit merengut karna saya dengan brutal merebut remot dan mengganti sinetron ke HBO (yang sebenernya esensinya sama, haha). Di jam segini juga, maka ibu saya akan menyuruh saya menonton TV di lantai 2 karna saya sudah menganggu jam sinetronnya. Di jam segini juga, saya pasti cemberut dan tidak beranjak dari tempat duduk sambil memegang remot erat erat, dan mendegarkan omelan ibu bahwa beliau ingin tau kelanjutan putri yang duah tidak ditukar. Di jam segini pula, maka saya melihat ayah saya di kursi goyang yang dengan lelap mendengkur tanpa terganggu pertengakaran saya dan ibu saya. Di jam segini pula, saya melihat nafas ayah saya bergerak teratur, menebus waktu yang telah setengah hari terganti oleh keringat. Lalu, di jam ini pula, ibu saya membentak saya sekali lagi, menyuruh saya menonton TV di lantai2, saya tetap tidak beranjak, duduk lekar seakan menyatu dengan tanah, tidak mau beranjak ke lantai 2. Apa mungkin yang kutemukan di lantai 2?, selain semilir angin yang sedikit membuat seram?, dan sedikit pantulan lampu kota yang sama sekali tidak hangat?, Ah...Ibu saya tidak tau, bahwa saya bertahan, bukan untuk HBO atau Nat Geo, tapi untuk setiap waktu yang sayang sekali untuk kulewatkan, menggoda ibu saya, membuatnya sedikit sebal pada saya, bertengkar masalah sinetron, melihat ayah saya dengan ekor mata saya yang telah lelap, dan mendengar dengkurnya di sela sela suara televisi, akan menjadi bonus jika adik saya ada dirumah, maka ia akan duduk di tengah tengah ruangan, menekuri laptop, memakai headset, dan mendendangkan tembang Oasis. Saya juga paham pasti, mengapa adik saya memilih autis di tengah ruang Tv kami yang kecil serta riuh dan bukan di kamarnya yang hangat.

Hari ini, di jam segini, saya masih di depan laptop, enggan bergabung menonton tv walupun yang di putar sinetron yang sama. Di sini jam segini, saya ditemani sebotol air putih karna lagi libur ngopi dan sekilo jeruk santang, masih sibuk mencari cari kata pembuka yang paling tepat untuk proposal saya. Disini jam segini, saya masih saya sibuk mencari air mata penanda rindu pada bapak ibu dan adek nomer satu saya.

it is called revelation : begitu saya coba memaknnai kehilangan ini

Saya percaya bahwa kehilangan dan keniscayaan itu bertalian begitu erat. Maka mungkin benar apa kata seseorang, bahwa janganlah memiliki jika tak siiap kehilangan. Namun kepemilikan itu sendiri datang begitu saja, sebuah keindahan yang kita tak pernah sanggup menolak. Dan, laiknya simalakama, kehilangan pasti akan sedia mengintai kemanapun kepemilikan pergi. Maka, laiaknya bumi yang berputar, kehilangan dan keniscayaan itu bertalian begitu erat. Kali ini, saya akan mencoba menceritakan kehilangan tanpa sedu sedan, cukuplah menangis sekedarnya, hidup membutuhkan lebih dari sekedar air mata. Saya mengalami 3 kehilangan terbesar dalam hidup saya. Kehilangan pertama adalah ketika yang kung dari pihak ibu meninggal. Kehilangan yang heroik, saya masih ingat melihat selang selang ditubuh beliau, juga nafasnya yang tersenggal. Yang kung saya pensiunan polisi, badannya tinggi besar dan kulitnya putih cerah. Ibu bilang, yangkung saya itu ber nenek orang belanda, mbah benci (dengan 'e' lebar kayak medan) nama buyut saya. Dan jangan tanyakan kenapa darah bule itu tidak sedikitpun menurun pada saya, karna jika iya, maka foto saya tidak hanya terpampang pada buku pedoman pendidikan sebagai pengajar, melainkan menghiasi cover majalah vogue dengan wajah blesteran saya. Anggap saja saya sial, karna kulit putih dan tubuh tinggi hanya berhenti di ibu saya. Yangkung lelaki yang keras, pernah di marahinya saya karna makan dengan mulut berdecak, namun di balik wajah tegas, rahang yang kokoh dan sorot mata yang tajam, yang kung sangat penyayang. Beliau selalu membawakan saya kacang asin yang di buungkus dengan kertas sukun warna warni. Dari sekian banyak memory, entah kenapa partikel itu yang melekat dan jelas saya ingat. Bahwa pernah sekalinya saya menunggu beliau di ujung pintu, dengan baju terbaik saya, badan saya yang wangi, dan rambut yang tersisir rapi, yangkung tak juga datang. Saya kehilangan beliau, sejak terakhir jasadnya kuciumi dan kupeluk tanpa tangis, saya masih begitu kecil, hingga tak menyadari bahwa yangkung tak sekedar tidur. Kehilangan ini ringan, mungkin karna pemahaman kerdil saya tak cukup mampu meraih arti kematian, namun saya masih kerapp sedih, jika otak saya tiba tiba tanpa komando berjelajah liar mencari cari kenangan yangkung dan juga kacang asin berkertas sukun warna warni. Kehilangan terbesar kedua saya adalah sahabat, seorang yang begituu dekat dengan saya tiba tiba berlalu. Memang, sesuatu yang terlalu itu tak selalu baik, seringkali sesuatuu yang terlalu itu bisa dengan mudahnya berlalu. Pikir saya yang masih sangat hijau serta perasaan terlalu saya padanya sekejap saja membuatnya berlalu. Saya ingat betul, bagaimana kami berbagi dulu. Tentang laki laki yang ingin kami nikahi, tentang rumah yang ingin kami tinggali, dan tentang hidup yang ingin kami jalani. Kini kami seperti dua orang yang baruu bertemuu di jalan, saling berkenalan, lalu berlalu begitu saja. Kehilangan yang seharusnya tak perlu hilang, sayangnya kini semua tak lagi sama. Hari ini, adalah hari dimana kehilangan ketiga terbesar saya terjadi. Nenek saya dari pihak ibu meninggal, tepat jam 7 pagi, tepat di hari kasih sayang. Saya cukup takzim bahwa Tuhan menetapkan kematian mbah uti saya jauh sebelum sir valentine menginspirasi dunia tentang hari kasih sayang ini. Dan jika sir valentine berkelindang takdir dengan mbah uti saya di surga sana, maka saya yakin, beliau berdua adalah salah satu orang yang penuh dengan kasih. Mbah uti saya menikah di umur 16 tahun. Jangan tanyakan padanya tentang feminisme, mbah uti akan tanya, makanan apa itu?. Maka mintalah ia menceritakan hidupnya, bagaimana usia sebelia itu mampu mendampingi yangkung saya, melahirkan dan merawat ke enam anaknya, menjual sawah warisan untuk anak anaknya sekolah, dan tetap begitu sederhana memandang kehidupan. Mbah uti saya tidakk perlu bersekolah tinggi untuk dapat memahami arti pendidikan, jika saja beliau bukan mbah uti, maka ibu saya akan menikah di umur nya yang muda, meninggal karna belum siiap beranak, bukan bersuami ayah saya yang luar biasa nomer satunya, maka saya tidak akan pernah ada. Dan mbah uti tidak pernah sekalipun merepotkan anak anaknya, pun ibu saya. Bagaimanapun sakitnyya beliauu, beliau hanya akan tersenyum dann bilang tidak apa apa. Mbah uti ku, perempuan sunyi dengan senyum renyah dan mata yang menerawang entah mencari apa, mungkinkah yangkung yang telah lama meninggalkannya, mungkinkah beliau kangen ibunya, mungkinkah ia kangen masa mudanya yang penuh binar?. Saya tak pernah tau, karna saya tak pandai berkata, maka saya hanya akan duduk di sampingnya, mengelus punggungnya, memegang tangannya, menyambut senyumnya, dan masih menerka apa yang ada di terawang matanya. Mbah uti meninggal begitu cepat, hanya dua tante saya yang di samping beliau, sebelumnya beliau sehat, bahkan malamnnya giat nonton tanding bola. Maka saya yakin mbah nya orang yang baikk sekali, beliau tak lama menderita dalam rangkulan maut. Mungkin ini adalah pembebasan mbah uti, mungkin akhirnya beliau dapat menemukan hal hal yang diterawang matanya, mungkin ini memang terbaik bagi mbah untuk pergi, walaupun tetap, bagi kami, ini terlalu cepat. Mbah uti ku, perempuan sunyi dengan senyum renyah dan mata terawangnnya sudah tiada. Sebuah kehilangan besar bagi saya yang hanyya bertemu beliau sekali setaun pas hari raya. Kami berpotret bersama hari raya tahun lalu. Saya tak pernah tau bahwa itu adalah terakhir kalinya saya mencium tangannya, juga pipinya, dan menikmati kesunyiannya. Selamat jalan mbah, sure heaven is yours....gonna miss you soon. Hari raya tahun ini, kami akan mengunjungi makammu, bercerita tentang pagi yang selalu menjadi harap. Salam saya untuk yang kung, berbahagialah kalian berdua disana, jangan lupa mengunjungi kami yang disini sesekali, walau hanya bersua dalam mimpi yang sekejap. Maaf, hanya ini yang bisa kuberikan padamu mbah, jika kehilangan ini mengajarkan saya percaya bahwa kau akan baik baik saja, maka kehilangan ini akan menjadi sesuatu yang manis, dan tak lagi perlu sedu sedang untuk menyesalinya. It is revelation..

Thursday, June 16, 2011

Saking Manusia terlalu dimanjakan, Setan pun sampai menggugat

Judul saya panjang sekali yah?, tapi tak apa lah, sekarang kan jamannya yang panjang panjang, masak judul saya kalah sama episot seinetron?..loh?

Perihal tentang judul saya diatas, sebenarnya saya tidak berkehendak untuk menulis opini saya, saya hanya terlalu bergairah karena membaca sebuah "komik" yang di pinjamkan kawan saya pada saya. Perihal peminjaman ini bermula dari kepindahan saya ke Malang yang super mendadak, satu satunya buku yang saya bawa judulnya Psikologi Pendidikan, hah..bukan judul yang tepat untuk dibaca sambil tiduran bukan?. Lalu saya pergi ke toko buku yang menyediakan diskon seumur hidup (Toga Mas rek), saya beli saja Padang Bulannya Andrea Hirata setelah seorang kawan meyakinkan saya untuk kembali mencintai nya. Besoknya, buku saya ini di pinjam oleh kawan saya yang mengalami nasib serupa dengan saya, tak tegalah saya, kupinjamkan saja buku baru saya itu. Nah, disini baiknya, benar kata hadis entah siapa yang berujar, saya juga lupa, pokok inti hadis itu adalah, bahwa jika engkau berbuat kebaikan, maka kebaikan akan datang padamu juga. Rupanya kebaikan saya meminjamkan buku, dibalas dengan sangat cepat, hanya selang dua hari, mbak kristin, rekan seperjuangan saya menawarkan meminjamkan buku, "menawarkan saya", jarang jarang loh, biasanya kan saya yang maksa minjem buku. Ia menawarkan saya untuk meminjam tiga bukunya Pram (karna yang bumi manusia saya sudah baca) dan satu "komik" indonesia berjudul Hidup itu Indah karya Aji Prasetyo.

Saya ini tidak terlalu suka komik, suerr...satu satunya komik yang saya baca sampai tuntas ya detektif konan, sampai ada serial kartunnya di Indosiar, berhentilah saya baca komik. Nah, mbak kristin meyakinkan saya untuk baca komik yang satu ini, okelah, kata saya, lagipula pram terlalu berat untuk dibaca sambil tiduran, selain berat tebalnya juga berat isinya. Saya baca komik ini yang kemudian menamakan dirinya "Kumpulan Komik Opini", ternyata memang benar kata mbak kristin,,,,lucuuuuu,,,,lugasssss,,,,,cerkasssss,,,,,cerdassssss,,,,,konyollllll,,,,,,to the pointttttt,,,,,apa lagi ya? sekk....emhhh.....asekkkkkk pokoknya.

Awalnya saya ingin mengkritisi komik ini, lalu saya pikir, kritik akan hadir jika saya berfriksi dengan karya ini bukan?, tapi saya setuju seratus persen, ah..kalo begitu mensarani saja, lalu saya pikir lagi, tahu apa saya tentang komik, suka saja baru baru ini, apa yang mau saya sarankan?, saya jadi bingung menamai genre tulisan saya ini, hemm...apresiasi saja mungkin yah?, saya hanya ingin berbagi kesenangan, seperti mbak kristin yang berbagi komik ini pada saya, saya pun ingin berbagi sensasi tidak biasa setelah membaca komik ini pada pembaca (karena saya tidak mungkin meminjamkan komik yang bukan punya saya kan?).

"Hidup itu Indah", judul komik opini ini. Illustratornya adalah Aji Prasetyo, seorang sarjana seni rupa lulusan UM. Isinya mengkritisi kehidupan sosial politik dan agama di Indonesia dalam rentang tahun 2008 sampe 2010 (semoga benar). Mulai dari perang jawa, PKI, Amrozi cs, termehek mehek, minta tolong, FPI (Front Pencemar Islam), sampai kentut, ada disini. Aji Prasetyo dengan cerdas dan cerkas meramu isu isu sospol, agama dan budaya dalam guyonan yang ringan, gambar gambar yang ekspresif, dan tema tema keseharian yang sebenarnya berat, namun disajikan dengan sangat ramah. Membaca komik Aji ini mengingatkan saat saat dimana saya masih ber-Maha maha sebagai siswa, mengagungkan ritual ngopi padahal saya ngeteh sambil mengkritisi pemerintah sana sini, mencemaskan nasib adik adik yang sudah pandai bersolek dan rekreasi badan, resah karena semakin banyak mall daripada rumah pintar, geram saat lihat norman goyang india dan digilai masyarakat, gatel pengen nonjok saat lihat mukanya marzuki ali, ngomel gak jelas setiap kali liat iklannya termehek mehek yang jelas jelas bukan reality show (tapi kalo uda pake istilah show? Apa pantes di tambahi reality yah?), dibarengi geleng geleng prihatin, menatap jalanan yang sudah mulai kosong dengan mata nanar, atau tertawa terbahak bahak karna menyadari bahwa kami hanya bisa bicara. Ah...saya merindukan saat saat itu...hukz.... T-T.

Yuk kembali ke “Hidup Itu Indah”. Aji Prasetyo membagi kisahnya dalam lima babs (jamak ditambahi s), bab pertama berjudul Hidup Itu Indah, yang kedua Komoditi Itu Bernama Agama, yang ketiga Sekolah Bangsa Itu Bernama Media (saya suka judul ini, ingin kubajak saja rasanya), yang keempat Berpolitik Tanpa Melukai Akal Sehat, dan yang terakhir Sejumput Wacana Dalam Selembar. Kesemua babs ini menarik, tapi ada satu yang paling favorit bagi saya yang ternyata juga favorit bagi Ayu Utami si pengantar kata dalam komik ini. Yang menarik bagi kami (saya dan ayu utami) adalah salah satu kisah berjudul Setan Menggugat. Kisah ini tergabung dalam bab 2 yang berjudul Komoditi Itu Bernama Agama. Kenapa menarik?, karna Aji berusaha bersimpati pada setan.

Setan Menggugat?, kenapa loh?, usut punya usut karena sekarang manusia sudah banyak yang jadi setan, jadi setan mulai kehilangan pekerjaannya. Saya pun jadi ikut bersimpati pada setan, coba pikirkan, Tuhan ingin agar seluruh umatnya menyembah Tuhan, nah, saat setan menolak menyembah adam dan Tuhan menghukumnya, Setan merasa terkhianati, mungkin dalam hatinya begini “Aku kan nurut cuman mau menyembah Tuhan dan bukan adam, kok malah dihukum sih?”. Trus lagi, yang bikin si setan ini merana, dia selalu diijadikan kambing hitam untuk semuaaaaaaaaaaaa kesalahan manusia, secara implisit, setan ini dijadikan tolak ukur kemuliaan manusia berdasarkan keburukannya. Trus lagi, yang bikin si setan ini merana, dia tidak dapat kesempatan untuk bertobak dan masuk surga, tidak seperti kita manusia yang selalu dapat pengampuan setiap hari raya. Trus lagi, setan ini juga tidak dapat bonus binatang ternak kayak kita manusia loh?. Hmm,,,,kalau dipikr pikir, kasihan banget yah si setan ini, padahal satu satunya mahluk Tuhan yang konsisten melakukan perintah Tuhan ya si setan ini, mengganggu manusia. Jadi, saat Setan berusaha menggugat Tuhan atas posisinya yang serba tragis ini, saya hanya bisa berkata “semangaattt..”.

Parodi singkat tentang setan tadi mohon jangan dimaknai terlalu serius, jangan juga sodori saya dengan hadis dan ayat ayat, saya belum mengerti itu semua. Saya hanya ingin mengajak pembaca untuk merenungkan kembali kehidupan ini melalui komi Aji ini. Judul ini menarik sekali bagi saya, kenapa?, karena kemudian saya kembali mempertanyakan semuaaaaanyaaaa. Pencitraan setan ini yang kemudian saya tanyakan, juga pencitraan bonus bonus binatang ternak sebagai embel embel beribadah, isu klasik memang, namun ternyata tetap jadi PR dan belum juga terjawab. Saya paham bahwa manusia itu dasarnya bersifat prakmatis, jadi konsep Tuhan yang kalkulatif di anggap paling pas sebagai konsep doktrinasi. Nah, lagi lagi si setan yang kena getahnya, sudah dikambing hitamkan, di jelek jelekkan, di hukum, tidak diberi kesempatan bertobat, tidak boleh masuk surga pula. Humm...kalo mengingat nasib setan ini, betapa beruntungnya kita jadi manusia yah?, dan bukan setan. Kita memang benar benar dimanjakan Tuhan. Alhamdulillah....

Melontarkan sebuah sikap kritis optimis itu memang bukan hal gampang, tidak seperti kritik pesimis dan anarkis yang cukup dengan menggerutu dan merusak. Kritik Optimis disampaikan dengan cara yang damai, santun, namun tepat sasaran, dan jangan lupa solusi. Inilah yang tidak dilupakan Aji Prasetyo. Solusi itu tidak tampil dalam tanda kutip dan di akhiri dengan jargon “salam super”, namun ia mencoba membuka ruang dialektika dalam kisah kisahnya, ruang dialektika bebas yang membiarkan para penikmat kisah ini menjadi sensitif dan berpikir kritis optimis. Jika saya melihat berita berita sospol di televisi swasta apalagi tv satu yang lebay, saya suka takut dan ngeri sendiri melihat dan mengetahui kesakitan bangsa ini, saya suka sebel, geregetan, darah tinggi saya semakin tinggi melihat para pemangku negeri yang masih betah bermunafik ria. Saya suka bertanya, “kemaluannya” dimana yah?. Ah, daripada nonton berita seperti itu, jika esensinya adalah mengetahui perkembangan bangsa ini, saya lebih memilih menikmati komik opini Aji Prasetya saja, biar dia yang nonton ngerinya berita di bangsa ini, lalu dia akan meramunya dengan komik yang asyik, dan saya akan membacanya. Hihihhiii...saya jadi menemukan cara yang menarik untuk ber berita.

Saking senangnya saya dengan komik ini, saya ingin teman teman juga menikmatinya, bagi yang sudah membaca boleh membaca lagi, bagi yang belum, sempatkanlah membaca, dan mari kita bersama sama merasakan bahwa “Hidup Itu Indah”

seri virtualnya bisa teman teman baca di link ini http://klewang.multiply.com/.

Thursday, May 19, 2011

Kembali Belajar (Berbagi) by Alies Poetri Lintangsari on Friday, May 20, 2011 at 12:16am

Malam kemaren saya menghadiri Diskusi Buku Sehimpun Puisi "Manusia Utama" karya Y Thendra BP, di warung gubug. Malam kemaren juga merupakan malam pertama saya pulang pagi setelah hampir setengah tahun terakhir jadi anak rumahan. Pulang karena morning call ibu saya yang mengingatkan, "Mbak, sudah jam 1 lo". Saya selalu candui malam, entah kenapa. Mungkin karna malam membiarkan saya bebas bermimpi, karna malam masih menyajikan harapan yang ia titipkan pada pagi, karna malam saya bisa bertemu dengan kawan kawan yang berani berdiri pada idelisme mereka, berani menantang dunia yang sudah biasa dengan menjadi luar biasa.Salut dan terimaksih pada kalian karena telah menjadi begitu berani. Seketika itu juga saya merasa bahwa saya hanyalah orang beruntung yang telah menyerah (pada diri saya sendiri, pada idealisme saya sendiri), saya menghianati diri saya sendiri. Pernah merasa tidak? Menghianati diri sendiri? Rasanya aneh, seperti menjadi pecundang ditambah pengecut ditambah penakut ditambah penipu, wuizz..saya sampai tidak tega menuliskan dan menjumlahkannya dalam bentuk sama dengan. Yang pasti, rasanya seperti kehilangan separuh diri saya. Kadang saya suka benci pada diri saya, kenapa saya menyerah begitu cepat, untuk sesuatu yang mereka sebut realitas, untuk sesuatu yang mereka sebut kebaktian, untuk sesuatu yang mereka sebut dunia nyata. Saya hanya ingin berusaha menyebutnya hidup, yah, bagaimanapun saya harus tetap hidup bukan?, harus, walau dengan diri saya yang menghianati dan terhianati. Hem, sudah sudah curhatnya..(sambil mengelus jidat saya sendiri).

Ada yang bilang (saya lupa siapa), bahwa seperti apapun realita, seburuk buruknya ia, maka ia akan tetap yang terindah, karna ia nyata. Namun, setidaknya bagi saya, ia (realita) itu menakutkan, ia bisa mengambil dirimu kapan saja dan dimana saja untuk sesuatu yang terkadang sangat sepele, begitu sepelanya sampai sampai membuat dirimu geleng geleng kepala, menepuk nepuk jidat, mengelus elus dada dan berkata "oalah....mung ngene tok to?". Dan perlahan akan membuatmu membenci dirimu sendiri karna telah menukar harta karunmu dengan sesuatu yang (lagi lagi) bernama realita. Hadegh....ketemu terus sama yang satu itu, dimanapun, bahkan dalam mimpi pun aura seramnya masih bisa saya rasakan. Saya hanya tidak menyangka akan bangun secepat ini. Amunisi saya belum memadai, otak saya juga masi sepenuhnya perawan, ahh..mungkin sebenarnya saya hanya tidak ingin bangun secepat ini. Tapi ternyata saya harus.

Intinya sebenarnya adalah bahwa masa depan itu seperti bom waktu dengan detikan yang begitu cepat, tau tau ia meledak di hadapanmu tanpa memberimu kesempatan untuk memilih menggunting benang biru atau merah. Pilihannya adalah hanya satu, face it. Itulah yang sekarang sedang saya lakukan, kembali belajar (berbagi).

Saya seringkali bermasalah dalam teknik menulis, saya hanya menulis semau saya, teman teman seringkali bilang bahwa tulisan saya suka tidak relevan antara judul dan isi, dan saya pastikan tulisan yang satu ini akan bernasib sama. Karena ada inti yang lebih sebenarnya lagi dalam tulisan ini selain masa depan yang seperti bom waktu.

Inti yang lebih sebenarnya itu adalah bahwa saya ingin mengajak teman teman semua untuk kembali belajar berbagi, bagi yang telah berbagi mari kita berbagi bersama. Saya ingin mengajak teman teman untuk berbagi jendela dunia, berbagi buku. Buku apapun itu, yang pasti bukan buku kamasutra atau baghawad gita, bukan bearti buku itu tidak berguna, yang pasti tidak sekarang, karna buku buku yang saya maksudkan adalah buku buku untuk teman teman kita di Halmahera Selatan, Maluku Utara, tepatnya di 5 kecamatan, yaitu di Kecamatan Bacan, Bacan Selatan, Bacan Timur Tengah, Botanglomang, dan Mandioli Utara.

Teman teman pasti bertanya lagi, ngapain kita ngasih buku jauh jauh ke Halmahera Selatan? Hem..jadi begini ceritanya,,alkisah..hiduplah seorang gadis yang baru jadi sarjana, kemudian dia mencoba mendaftar untuk menjadi Pengajar Muda dalam program Indonesia Mengajar yang digawangi oleh Anies Baswedan. Pengajar Muda ini nantinya bertugas untuk menjadi guru di desa terpencil cil cil cil selama setahun. Dari sekitar 2000 pendaftar, entah karena kesalahan sistem, panitia yang udah ngantuk menyeleksi, atau memang begitu adanya, dengan ajaib, gadis ini lolos dalam penjaringan awal, dari 2000 peserta menjadi 200 peserta yang kemudian akan direduksi lagi menjadi 70 peserta. Girangnya bukan kepalang gadis ini, "wah,,aku jadi Butet Manurung euy...ihir ihir..!" begitu seru hatinya, tapi ternyata tidak dengan bapak ibunya yang diam seribu bahasa dengan alir yang berkerut. Ah..tak apalah, pikirnya, let me do what i want this time, katanya membeo the smith. Berangkatlah ia untuk mengikuti tes selanjutnya dengan semangat empat lima ditambah semangatnya bung tomo, nah lo, kurang apa cobak?. Entah karna memang dia yang tidak memenuhi syarat atau karena jampi jampi orang tua yang tak rela anaknya pergi menghutan, gagallah ia di tahap terakhir itu. Hem,,hanya bisa menarik nafas panjanggggggggggg sekali, berusaha memahfumkan semuanya, mencari cari pledoi yang tepat pada uban bapak ibunya, akhirnya dia berkata "mungkin bukan sekarang, iya, mungkin bukan sekarang". Lalu memaksakan senyum, dan lagi lagi runtuh senyum itu seraya berkata "padahal saya sudah sangat dekat".

Begitulah, walaupun gagal menjadi Pengajar Muda, Indonesia Mengajar memberikan peluang untuk berbagi dengan cara lain, cara yang jauh lebih mudah. Yaitu menjadi Penyala dalam program Indonesia Menyala. Siapa saja bisa menjadi Penyala, siapa saja, teman teman juga bisa. Tujuan dari Indonesia Menyala adalah membuat perpustakaan portable yang dinamis dengan pustakawan yang portable dan dinamis pula. Kontribusi yang bisa teman teman berikan (jika ingin menjadi penyala) hanya mengumpulkan buku buku apapun itu, baik baru maupun lama, murah maupun mahal, lalu memberikannya pada saya, dan kemudian saya akan menyetorkannya pada Indonesia Mengajar yang kemudian akan didistribusikan ke daerah daerah yang membutuhkan. Kegiatan ini digagas atas aspirasi dari para pengajar muda angakatan pertama yang menemukan kesulitan dalam penyediaan buku buku, baik buku pelajaran maupun buku buku lainnya. Bagi teman teman yang berminat menjadi Penyala, bisa segera mengumpulkan buku buku dan bisa menghubungi saya untuk pengumpulannya. Bisa lewat FB atau langsung hubungi saya di no. 085 236 110 350. Teman teman tidak perlu repot repot mengantarkan apabila tidak sempat, saya akan dengan senang hati berkunjung dan mengambil buku buku tersebut.

Berikut ini saya lampirkan data jenis jenis buku yang diperlukan sebagai bahan acuan, namun tidak perlu terbingkai pada ini, teman teman tetap bebas berbagi buku apapun asal bisa bermanfaat bagi teman teman kita di Halmahera Selatan.

I. Buku-buku fiksi dan majalah macam National Geo (sumber: Rahmat Danu Andika)

II. Buku-buku kebutuhan SMK Indong (sumber: Rahman Adi P)

- Dasar-Dasar Listrik

- Teknik Listrik

- Pemasangan Instalasi Listrik

- Ilmu Baku Listrik

- Mengoperasikan genset

- Sistem kontrol

- Jaringan distribusi

- Analisis gambar diagram instalasi

- Praktek instalasi listrik rumah tingga

- Teknik kontrol

- Bahasa Inggris untuk SMK

- Bahasa Indonesia untuk SMK

- Matematika untuk SMK

III. Buku-buku kisah atau buku cerita yang inspiratif (sumber: Rhamdani Kurniawan)

IV. Buku-buku bergambar untuk anak usia kecil (sumber: Hendra Aripin)

Terimakasih telah meyempatkan membaca keluh kesah saya, terimakasih pula telah membaca ajakan saya. Saya benar benar berharap teman teman semua bersedia bergabung dengan saya dalam Indonesia Menyala. Jika ingin mengetahui info lebih lanjut, teman teman bisa gabung dengan web page kami dalam Indonesia Menyala dengan pokja Halmahera Selatan Menyala. Bisa juga mengunjungi website kami dengan link berikut http://www.indonesiamengajar.org/

Ditunggu partisipasinya teman..mari kembali belajar berbagi ^^